BlackBerry Sayang, BlackBerry Malang…Hidup & Matimu

7 months ago by in Avante Talks Tagged: , , , , , ,

Apa kabar BlackBerry? Di balik popularitasnya sebagai ponsel atau gadget paling umum di Indonesia, BlackBerry sedang menjalani hidup yang sangat merana di dunia internasional. Dituding gagal menelurkan inovasi dan bersaing secara kreatif melawan iOS dan Android. Apalagi kini, Windows Phone 8 dari Microsoft pun ikut merenggut lebih banyak bagian di pasar. Jadi, bagaimana kondisi RIM dan BlackBerry saat ini? Saham jatuh, gonta-ganti CEO dan manajer, pemecatan ribuan karyawan, dan lain-lain, semua mengacu pada pertanda kalau RIM akan segera tutup buku. Kenyataannya, perusahaan yang berbasis di Kanada ini masih berjuang mati-matian mempertahankan hidupnya. Dan salah satu (atau satu-satunya) senjata mereka adalah…BB10 (BlackBerry OS versi 10).

BlackBerry di Indonesia, “Pager” Berbadan Ponsel

BlackBerry mulai naik daun sekitar tujuh tahun silam di Indonesia. Sebelumnya maaf, saya hanya akan membahas kondisi lokal saja di Indonesia. Karena bahasan artikel ini lebih tertuju pada kita, pengguna BlackBerry di Indonesia. Kala itu, Android masih culun dan prematur. Sedangkan iOS sudah bagus dan manis, namun dicap mahal (biasa, Apple…) dan format touchscreen kapasitif belum populer. Sedangkan Windows Mobile ber-stylus mulai banyak ditinggal orang. Siapa raja saat itu? Jelas Symbian! Nokia E90 (alias Ego) pernah laris seharga 15 Jutaan Rupiah di hari peluncurannya.

BlackBerry hadir bawa nuansa baru. Ini lho ponsel canggih yang sebenarnya! Kata banyak orang. Push Email dan BBM menjadi barang ajaib, yang memang belum dimiliki oleh OS vendor mana pun. Sistem input pakai trackball (saat itu) dinilai cerdas, cepat, dan akurat, dianggap super canggih (meski Ericsson T68i milik saya di tahun 2001 sudah populerkan trackball lebih dulu). Terlebih lagi, dengan sistem bayar sekali per bulan bisa chatting dan email sepuasnya, kian lama kian jadi alternatif murah. Maka BlackBerry pun mulai jadi alat wajib bagi mereka yang bekerja kantoran. Remaja masih enggan memakai, dibilang berkesan tua atau bapak-bapak… Model handset BlackBerry memang kurang trendi (sampai sekarang sih). Namun, semua pengguna BlackBerry generasi awal, yang notabene pebisnis atau pegawai sibuk, pastilah punya lingkungan, komunitas, dan keluarga. Pelan tapi pasti, BlackBerry meracun semua lapisan. Dulu muncul istilah “autis BlackBerry” karena hampir semua orang yang sudah pegang BlackBerry akan punya sikap-sikap unik dan aneh. Misalnya, jalan-jalan tanpa melihat ke depan, ngetik ketimbang telepon, arisan di BlackBerry, eksis di status BBM, sampai punya status yang “online, online…” nonstop.

Karena sifatnya yang lebih banyak berbasis teks, chat, atau tulisan (ketimbang lisan), BlackBerry terkesan membawa kita kembali ke jaman Pager. Handset ini pun dulunya sepi game. Tidak ada game dan unsur suka-suka di BlackBerry. Semuanya melulu ke kerja, kerja, kerja, dan hal serius lainnya. Hingga akhirnya kini, perlahan-lahan RIM mulai mengikuti perkembangan demi tidak makin tergerus oleh Android dan iOS.

Kenapa BlackBerry bisa begitu laris di Indonesia? Karena murah. Titik.

BlackBerry enam tahunan lalu juga tidak laris. Saat itu, Bold 9000, Curve 8900 (atau Javelin), dan Curve 8300 adalah yang paling umum. Harganya pun luar biasa memang. Bold 9000 bisa ditandingkan dengan harga Nokia Communicator E90. Selain itu, BES dan BIS, atau BlackBerry Internet Service, kala pertama hadir di Indonesia baru dan hanya didukung oleh Indosat. Karena itu, hingga kini nomor BlackBerry saya pun masih nomor Indosat hehehe… Tepatnya sejak tahun 2004, BlackBerry mulai masuk Indonesia. Namun itu pun baru layanan BES untuk kalangan korporat. BIS sendiri baru diluncurkan tahun 2008, bersama Telkomsel, selain Indosat. Selain model dan pemakaian yang tak umum, harga berlangganannya pun tidak murah. Kita mesti siap merogoh kocek 180 Ribu Rupiah tiap bulan, di luar keperluan pulsa untuk telepon dan SMS.

Namun…pelan tapi pasti, penggunanya meluber. Viral Marketing sukses jadi metode RIM di Indonesia. Kalau enam tahunan lalu, hanya bos-bos, direktur, atau manajer yang memakainya. Maka lima-enam tahun kemudian, pelajar SD (Sekolah Dasar), pedagang sayur keliling langganan keluarga saya, bahkan sopir bajaj di jalanan Jakarta pun sudah banyak yang ber-BlackBerry ria. Hebat! Nggak beda dengan Presiden Amerika, Barrack Obama, Katy Perry, atau Paris Hilton.

Karena dengan makin banyak pemakai, otomatis berkomunikasi dengan BlackBerry jadi murah. Lebih murah ketimbang telepon atau SMS. Apalagi RIM mulai getol luncurkan handset yang berharga terjangkau. Operator pun berinovasi dengan menyediakan ragam paket-paket murah serba terpangkas (yang, by the way, hanya akan ditemui di Indonesia lho). Jadi, Bam! Alat komunikasi sejuta umat resmi lahir di Indonesia! Akan susah untuk menghapusnya… Sifat pasar di sini identik dengan di India. Karena itu pula, Suzuki Ertiga sama suksesnya di sini dengan di India, hehehe.

Tapi mimpi RIM dan BlackBerry berhenti sampai di sini… iOS dan Android makin ganas berevolusi. Microsoft pun menggebrak dengan rombakan Windows Phone 7 yang menggantikan platform Windows Mobile (sekarang diperbarui dengan Windows Phone 8). Tiga OS mobile inilah yang paling sukses di atas. Kehadiran mereka sudah makan korban. Sebut saja Symbian, WebOS (milik Palm), dan Bada OS. Seiring dengan kemajuan teknologi, fitur-fitur andalan yang dulu bikin BlackBerry menggebrak pun mulai jadi standar di OS lain. Push Email sekarang bukan hal yang aneh. BBM punya banyak alternatif, misalnya WhatsApp yang paling populer. Semua pesaing BlackBerry berinovasi memberi apa yang jadi unggulan RIM, dan sepakat menyerang sisi-sisi lemah BlackBerry. Sisi lemah? Ya, BlackBerry punya BANYAK kelemahan (maaf, terpaksa saya kapitalkan). Misalnya desain model handset, image jadul karena setengah hati beralih ke full touchscreen, tidak gaul karena miskin aplikasi (termasuk game dan multimedia), spesifkasi hardware yang ketinggalan jaman, dan masih banyak lagi.

Dan RIM pun tertindas…
BlackBerry sudah bukan lagi pemimpin pasar di Amerika dan Eropa. Cenderung sebagai juru kunci malah. Beruntung, mereka masih punya pasar setia di negara-negara lain, yang masih bisa beri mereka perpanjangan nafas. Salah satunya adalah Indonesia. Tapi sampai kapan? Banyak sekali kenalan saya di Facebook yang sehari-hari bisa 2-3x mengumpatkan kekesalannya pada BlackBerry, sebagai contoh nyata saja.

BlackBerry 10, tetes darah terakhir, jebolan Playbook QNX yang (juga) tidak laku

RIM terakhir merilis OS 7, yang sebenarnya hanyalah OS 6.1 dengan penamaan baru dan wajah sedikit lebih ceria. OS 7 masih menampilkan antarmuka dan fitur yang secara fundamental, sama dengan BB OS klasik. Tidak banyak gebrakan baru di sana. Aslinya, karena RIM terpaku pada OS lama, merasa terikat pada platform lama, membuat versi touchscreen dari OS 6 dan OS 7 sangat kaku. Alhasil, hampir semua handset BlackBerry yang formatnya full touchscreen tidak laku di pasar.

RIM pun putar otak. Sebelumnya, mereka membuat tablet dengan nama Playbook. Meski juga tergolong tidak laris, mereka pikir mungkin inilah solusinya. Meletakkan OS Playbook (yang memang full touchscreen) berbasis QNX ke dalam handset generasi baru BlackBerry. Maka lahirlah nama BB10. OS terbaru BlackBerry yang akan dirilis kuartal pertama tahun depan. Baguskah? Bakal kuatkah menahan gempuran iOS 6, Android 4.1 Jelly Bean, dan Windows Phone 8? Yuk kita intip…di bagian kedua artikel ini.

The author didnt add any Information to his profile yet

  • Published: 47 posts