Ya, tidak 100% lebih baik dari iPhone 4 dan 4S, apalagi dibanding ponsel Android atau Windows Phone. Ketika semua vendor ponsel Android (terutama yang bermain di kelas hi-end) berlomba-lomba memamerkan kreasi produk yang bikin jejak tren baru, yaitu layar sentuh lebar, Apple tampak tenang-tenang saja. Mereka tetap bersiteguh dengan doktrin mereka, bahwa sebuah ponsel layar sentuh tetap harus nyaman digunakan dengan satu tangan. Lalu perlahan tapi pasti, dua kubu lainnya (yang masih minoritas) yaitu Windows Phone dan BlackBerry pun mulai ikut melebarkan layar-layar ponsel mereka. Kondisi pasar seperti ini membuat Apple akhirnya goyah dan terpaksa menyalahi janji mereka sendiri. Terlebih lagi, tak ada Steve Jobs yang terkenal ngotot mempertahankan idealisme eksklusif Apple. Alhasil, lahirlah iPhone 5 yang coba mengikuti tren tersebut, namun dengan cara yang luar biasa konyol (menurut saya, dan sederet pengamat dunia teknologi lainnya).
iPhone 5, bila boleh diringkas, sebenarnya hanya punya 3 (tiga) hal baru. Layar lebih lebar, A6, dan desain lebih tipis. Saya tidak menyebut iOS 6 sebagai kemajuan eksklusif iPhone 5 karena iPhone generasi sebelumnya pun bisa gratis meng-upgrade ke iOS 6 saat ini juga. Nah, yang jadi problem adalah, ketiga hal baru milik iPhone 5 tadi tidak semuanya benar-benar punya value added yang berguna bagi calon pemakainya. Mari kita gosipin sedikit lebih lanjut…
A6 versus Seluruh Dunia
Prosesor A6 milik Apple memang yang terkini. Belum dipasang di iPad generasi terbaru sekalipun. Lebih cepat? Pasti dong. Kalau tidak, untuk apa diberi angka “6″ sebagai lambang generasi baru setelah A5X. Tapi sejauh apakah gunanya, nilai tambahnya bagi pengguna? A6 hasil racikan Apple menggunakan basis ARMv7s dengan teknologi arsitektur 32nm. Prosesor ini hanya punya dual-core CPU kelas Cortex-A15 yang sifatnya custom karena dirancang sendiri oleh Apple. Kecepatannya hanya diplot di angka 1.2GHz. Sekilas memang tampak remeh ditengah hingar-bingar prosesor SoC lain yang sudah banyak bermain quad-core.
Tapi hasil mengejutkan datang dari benchmark yang dilakukan oleh Geekbench. SoC milik Apple ini sudah diperkuat GPU PowerVR SGX543MP3 (tri-core) 266MHz, sehingga bisa dimaklumi bila hasil ujinya sangat tinggi. A6 yang punya sistem bus memory 32-bit dual-channel 533MHz LPDDR2 ini mencetak angka Geekbench 1601! Hampir dua kali lipat kemampuan iPad 3 Retina Display, dan melebihi tablet Nexus 7 (1591), Galaxy S3 (1560), dan HTC One X (1085)! Itu artinya Apple A6 mampu menginjak Samsung Exynos 4412 quad-core 1.4GHz, Nvidia Tegra 3 quad-core 1.5GHz, dan Qualcomm Snapdragon S4 dual-core 1.5GHz.
Bangga? Pasti! Bergunakah? Tidak juga sih… iPhone 4S saya dengan prosesor A5 berskor 630 terbukti tidak memiliki beda performa sedikitpun dibanding iPhone 5. Jadi…Anda akan membeli sesuatu hal baru yang tidak benar-benar terpakai.
Desain, Satu-Satunya Taji Utama
iPhone 5 punya desain baru. Meski banyak orang menertawakan gaya Apple yang menarik ke atas badan iPhone 5 sehingga seakan seperti iPhone 4 yang lebih jangkung, toh belum ada ponsel premium lain sekelas yang punya desain lebih luks dibanding iPhone 5. Kalau Anda menggenggam Galaxy S3, atau Galaxy Note, rasa “murahan” akan muncul dari tubuh plastiknya. Xperia seperti seri S tampak luks, namun terlampau kaku. Sedangkan Lumia 900, One X, atau bahkan RAZR Maxx juga tidak punya kesan semewah iPhone 5.
Apple perlu diakui, desain iPhone 5 sukses mengalami peningkatan, terlepas dari layarnya yang dipertinggi. iPhone 5 tampil jauh lebih tipis (7.6mm), meski belum setipis Motorola Droid RAZR (7.1mm), dan luar biasa ringan. Mengadopsi trik unibody carbonized aluminium yang mereka lakukan kala pertama kali melahirkan Macbook Air ke dunia. Jujur, satu poin ini yang membuat saya berminat untuk menukar iPhone 4S saya ke iPhone 5 nanti. Memang tidak sempurna, tidak sesuai mimpi saya. Tapi tetap lebih baik ketimbang iPhone 4S. Di mimpi saya, iPhone 5 seharusnya muncul dengan desain ukuran seperti HTC Desire V (bila berlayar 4″) atau Galaxy S2 (bila berlayar 4.3″). Tapi mana mungkin? Bisa-bisa Apple ganti dituntut nantinya…
Layar Retina 4″ Yang Serba “Semau Gue”
Ini adalah inovasi kreatif Apple yang paling saya sebut konyol. Konyol karena banyak alasan. Pertama karena plin-plan dari doktrin era Steve Jobs. Kedua karena proporsinya tidak standar, yaitu rasio “hampir 16:9″ dan kemudian ketiga karena resolusi 1136×640 membuat dirinya aneh sendiri dan merepotkan para developer aplikasi atau game iOS. Kalau boleh menambahkan alasan keempat, yaitu akibat dari tingkah Apple ini, kebanyakan aplikasi yang tidak mendukung ukuran ini hanya punya dua jalan “kepepet” yaitu terselip bar hitam atau di-stretch paksa yang menyalagi aturan proporsional. Dan andaikan diperbolehkan menambahkan alasan LAGI, yang kelima adalah, toh ukuran 4″ juga sangat tanggung dan akan tetap membuat iPhone 5 ketinggalan tren smartphone yang sudah beranjak ke ukuran 4.6-4.8″.
iPhone 5 Dalam Mimpi Saya
Semua orang boleh bermimpi. Apalagi untuk saya, sebagai penggemar gadget dan fans Apple, sah saja untuk berharap. Di benak saya, dengan meninggalnya Steve Jobs, saya sempat berharap Tim Cook lebih jenius, lebih fair, open-minded, dan tidak sok idealis. iPhone 5 dalam mimpi saya adalah sebuah ponsel dengan ukuran antara Galaxy S3 atau HTC One X hingga Galaxy Note. Cukup enak sebagai ponsel, cukup kuat sebagai tablet. iOS 6 yang dijejali SEMUA fitur populer dari komunitas jailbreak Cydia, seperti Activator, Zephyr, Barrell, Winterboards, dan SBSettings. Sehingga kita bisa bebas menekan tombol sama sekali. Terakhir, karena Apple pesaing terdekat Google yang agresif membeli perusahaan-perusahaan IT lain, ada mimpi saya bila Apple membeli RIM yang bangkrut. Sehingga fitur chat BBM-like bisa nongol di iPhone, meski dengan nama iMessage. Well, what do we have here…a perfect phone! Tapi sudah jelas, itu semua tak mungkin terjadi. Dan minggu siang ini, saya duduk terpaku sembari mengetik artikel ini di Macbook Pro Retina Display, sambil merenungi, upgrade iPhone 4S ke iPhone 5 nggak ya Desember nanti?
Dengan ini, saya sebagai fans setia Apple, pengguna Mac dan iDevice sejak 8 tahunan lalu, dan (kebetulan) sudah memakai semua iPhone kecuali 3GS, menegaskan bila iPhone 5 adalah kreasi iPhone terjelek kedua dari Apple, setelah “facelift” iPhone 3GS dari iPhone 3G. (Erwind Prasetyo)