Saya juga punya pertanyaan yang sama, yaitu mengapa Apple bersikukuh menggunakan layar ukuran 3.5″ untuk iPhone. Awalnya, alasan teknis menjadi alasan kuat. Karena merubah ukuran layar dengan proporsi yang berbeda bakal membuat developer aplikasi iPhone (dan iPod Touch) harus menyesuaikan ukuran yang baru. Padahal kita tahu, berapa banyak aplikasi sudah dibuat untuk format iPhone. Yang pasti, sudah mencapai lebih dari 500 ribu aplikasi ketika dicatat pada tanggal 10 Juli 2008 lalu.
Ketika Apple akan mengumumkan iPhone baru kemarin, hampir semua orang di dunia yakin, iPhone5 akan dirilis. Dengan begitu banyak foto mock-up yang beredar, menunjukkkan desain iPhone baru yang berubah, dengan layar lebih besar. Seakan memuaskan harapan banyak orang. Ternyata, iPhone4S yang muncul, dan tak ada tanda-tanda sedikit pun mengenai rilis iPhone5 dengan ukuran layar baru. Ini pula yang banyak mengundang kekecewaan penggemar Apple.
Sebenarnya mengapa desainer teknis Apple tetap bertahan dengan ukuran layar 3.5″ yang dipakai saat ini? Alasannya sebenarnya cukup simpel. Kenyamanan dalam pemakaian. Kebetulan, belum lama ini saya pribadi membandingkan langsung Samsung Galaxy S2 (berwarna putih pula, senada dengan iPhone4 favorit). Galaxy S2 dinobatkan banyak orang sebagai ponsel paling top di kubu Android. Sekilas, memiliki gadget dengan layar di atas 4″ memang berkesan lega, luks, dan mengijinkan kita memiliki lebih banyak informasi di layar. Foto bisa tampak lebih besar, video lebih lapang, dan dengan widget, banyak hal add-on yang bisa kita tambahkan. Tapi setelah menginjak hari ke-2 atau ke-3, saya mulai sadar, ternyata menggunakan Galaxy S2 lebih ribet dibandingkan iPhone4 kesayangan. Tentu saja karena ukuran. Tidak enak dibenamkan di saku celana misalnya. Dan parahnya lagi, membutuhkan dua tangan untuk melakukan aktivitas intens dengan ponsel ini. Beda halnya dengan iPhone. Kita tetap enak menggenggam, enak dikantongi, dan jelas semua bagian layar bisa dengan nyaman disentuh menggunakan satu tangan. Sebenarnya apa yang dilakukan Steve Jobs dulu sudah sangat tepat. Segmentasinya jelas terbaca. iPhone enak digunakan sebagai sebuah ponsel, bukan pad berukuran ekstra. Kalau Anda butuh sesuatu yang lebih besar, ada iPad yang siap melayani Anda.
Langkah Samsung bisa dibaca dari dua sisi. Sisi pertama, memang luar biasa. Mereka mengisi semua ceruk pasar di setiap ukuran layar dengan produk. Sejak Galaxy Mini hingga Galaxy Tab 10.1. Tapi hal seperti ini juga di lain sisi, membuat pasar jadi bingung. Semuanya beda tipis. Dari sudut pandang ini, justru Apple yang rasanya mengambil keputusan paling tepat. Dan entah mengapa, meski iPhone baru tidak jadi berlayar besar, toh Apple mencatat rekor baru dengan menjual pre-order 200 ribu unit iPhone4 hanya dalam 12 jam pertama, dan hanya di Amerika.