Friday 02nd December 2016,

Movie Reviews

Ξ Leave a comment

Ambilkan Bulan, Petualangan Lima Sekawan ala Mizan

posted by Aisyah Nawangsari
Ambilkan Bulan, Petualangan Lima Sekawan ala Mizan

 Review Rating

Story
Effect
Music

Genre: Adventure

Director: Ifa Isfansyah

Actor: Agus Kuncoro, Lana Nitibaskara

 What We Like : 

Film yang cocok untuk mengenang masa kecil dengan iringan lagu anak-anak karya AT Mahmud

 What We Dislike :

Seringkali pemain lupa naskah yang harus diucapkan sehingga sangat mengganggu

“Libur telah tiba…. Libur telah tiba…..” demikianlah lagu yang didendangkan oleh Amelia (Lana Nitibaskara) ketika hari terakhir sekolah telah berlalu. Walaupun awalnya ia ragu kemana harus mengisi liburannya, namun Amelia tetap gembira menyambut liburan. Kebingungannya akan kemana akan berlibur berakhir ketika pamannya yang berasal dari Karanganyar, Jawa Tengah mengatakan bahwa ia akan menjemput Amelia ke Jakarta dan mengajaknya berlibur di desa.

Amelia adalah gadis kecil berusia 10 tahun yang tinggal di sebuah apartemen di Jakarta dengan segala hiruk-pikuknya. Ia sangat kesepian karena ibunya, Ratna (Astri Nurdin) sibuk bekerja dan mengejar karir. Awalnya ia masih sering bermain-main dengan ayahnya (Agus Kuncoro) yang seorang pelukis sehingga memiliki banyak waktu luang. Namun keadaan semakin memburuk ketika ayah Amelia meninggal karena kecelakaan. Amelia benar-benar sendirian karena ibunya juga semakin giat bekerja untuk menghidupi keluarga.

Karena kesepian, akhirnya Amelia bermain-main dengan jejaring sosial di dunia maya, yaitu facebook. Melalui dunia maya itulah ia bertemu dengan sepupunya, Ambar yang tinggal di Jawa Tengah. Ambar banyak bercerita tentang indahnya alam di desanya termasuk banyaknya kupu-kupu di hutan. Amelia yang mencintai kupu-kupu ingin sekali melihat mereka secara langsung, terutama yang di dalam hutan karena sayapnya berwarna biru. Di tengah keputusasaannya karena tidak bisa berkunjung ke desa, ayah dari Ambar menelepon dan mengatakan bahwa dia akan ke Jakarta untuk mengantarkan barang dagangan sekalian menjemput Amelia untuk berlibur ke desa

Walaupun awalnya sangat berat melepas Amelia, namun akhirnya Ratna mengijinkan Amelia untuk pergi ke desa. Di desa Amelia bertemu dengan Ambar dan keluarga besar ayahnya yang selama ini belum pernah ia temui. Di sana ia juga menemui teman baru yaitu Pandu, Kuncung, dan Hendra. Ia lebih merasa cocok dengan teman-teman barunya ini daripada dengan teman-temannya di Jakarta.

Suatu hari Amelia ingin melihat kupu-kupu bersayap biru yang pernah ditunjukkan Ambar di facebook, namun semua orang melarangnya karena legenda di sana mengatakan bahwa terdapat makhluk jahat bernama Mbah Gondrong hidup di desa itu. Semakin dilarang semakin penasaran, akhirnya Amelia nekat pergi ke hutan itu sendirian. Teman-temannya pun khawatir sehingga mereka membuntuti Amelia masuk ke hutan.

Begitu sampai di dalam hutan, mereka pun lupa jalan pulang dan tersesat. Hingga malam tiba mereka masih tidak bisa menemukan jalan keluar hutan hingga mereka mencium bau ayam bakar dari sebuah gubuk. Ternyata yang menghuni gubuk dan memasak ayam bakar itu adalah Mbah Gondrong yang menjadi legenda. Anak-anak yang ketakutan akhirnya berlari menjauh dari rumah tersebut. Sayangnya Kuncung tertinggal di rumah tersebut sehingga mereka semua kembali dan terjebak di dalam rumah Mbah Gondrong karena Mbah Gondrong menangkap basah mereka.

Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya anak-anak menginap di rumah Mbah Gondrong dan mereka menyadari bahwa Mbah Gondrong sebenarnya adalah orang baik. Pagi harinya Mbah Gondrong malah menemani mereka bermain dengan kupu-kupu yang selama ini mereka cari. Setelah itu Mbah Gondrong bersedia mengantar mereka hingga ke pinggir hutan.

Dalam perjalanan menuju pinggir hutan, anak-anak dan Mbah Gondrong menangkap basah penjahat yang melakukan ilegal logging. Ternyata penjahat tersebut menyadari keberadaan Mbah Gondrong dan anak-anak sehingga ia memanggil kakek Amelia dan beberapa petugas kepolisian. Namun keadaan berbalik di akhir, penjahat tersebut ditangkap oleh petugas karena ketahuan melakukan ilegal logging. Sedangkan Amelia dan kawan-kawan berhasil kembali ke keluarga mereka masing-masing.

Selama film berlangsung terdapat selingan nyanyian dan tarian dari Amelia dan kawan-kawannya yang membuat penonton dapat mengenang kembali masa kecil mereka. Apalagi lagu-lagu yang dinyanyikan adalah lagu ciptaan AT Mahmud yang sangat masyhur. Jujur, film ini sedikit mengingatkan saya pada film Petualangan Sherina yang juga mengusung tema petualangan dan musikal.

Visualisasi Dunia Maya

Terdapat beberapa scene yang menarik di dalam film Ambilkan Bulan ini. Kita semua tahu bahwa Mizan, selain memproduksi film, mereka juga memproduksi buku dan komik. Di dalam film mereka kali ini, terdapat scene yang terdiri dari gambar-gambar kartun namun tidak bergerak dan diberi dub suara para pemain. Scene ini bercerita tentang kehidupan Amelia sebelum ayahnya meninggal.

Selain itu, terdapat scene yang memvisualisasikan dunia internet. Mereka membuat sebuah scene yang menggambarkan bahwa Amelia dan Ambar dapat melihat satu sama lain dan saling bercakap-cakap namun dengan latar belakang yang berbeda. Kedua anak ini pun dipisahkan dengan jurang yang dalam. Ini menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi di dunia maya. Kita dapat bercakap-cakap dengan teman kita di facebook yang belum kita temui sama sekali seolah-olah sudah pernah bertemu sebelumnya.

Scene ini dapat menggambarkan dengan jelas apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia maya dan kehebatannya dalam mempersatukan dua orang yang dipisahkan oleh jarak..

Lupa Skenario

Ada beberapa hal yang kurang mengenakkan di dalam film Ambilkan Bulan. Di beberapa scene terlihat para pemain lupa apa yang harus mereka katakana. Ketika mereka lupa, mereka terlihat berpikir dan kemudian mengucapkan kalimatnya. Ada yang mengucapkannya dengan lanacar (setelah berpikir) ada juga yang masih tergagap.

Entah kenapa sutradara tidak mengulang scene yang menurut saya gagal tersebut. Mungkin penonton yang masih kecil tidak begitu mempermasalahkannya, tetapi bagi penonton yang sudah cukup umur untuk tahu apakah pemain itu melakukan akting dengan benar atau tidak, hal ini menjadi masalah besar dan sangat mengganggu.

Mengusung Lagu-lagu Ciptaan AT Mahmud dan Grup Band Besar Indonesia

Film Ambilkan Bulan memang mengususng tema petualangan, namun jangan lupa bahwa dia juga merupakan film musikal. Berbeda dengan Petualangan Sherina (yang sama-sama film petualangan dan musikal) yang menyuguhkan lagu-lagu baru, Ambilkan Bulan menggunakan lagu-lagu ciptaan AT Mahmud untuk mengisi film mereka. Ambilkan Bulan sendiri dibuat untuk mengenang almarhum yang telah berjasa dalam dunia musik anak-anak di Indonesia.

Lagu-lagu dari AT Mahmud ini dinyanyikan oleh sang pemeran utama, Lana Nitibaskara dan juga oleh grup band besar di Indonesia. Grup band yang berpartisipasi dalam film ini adalah Sheila on 7, The Changcutters, Cokelat, Superman is Dead, Judika, Astrid, SHE, /RIF, Numata, dan Tangga. Di akhir film muncul Sheila On 7 sebagai cameo. Mereka bernyanyi di tengah-tengah kemping bersama dengan anak-anak dan pemain lainnya.

Film ini sekaligus memperkenalkan lagu anak-anak kepada penonton-penonton cilik. Lagu anak-anak kini tidak begitu diminati jika dibandingkan dengan lagu-lagu cinta dari para artis mainstream di Indonesia.

Mengenang AT Mahmud

Film Ambilkan Bulan merupakan film yang didedikasikan untuk AT Mahmud, maestro musik tanah air yang menciptakan ratusan lagu anak-anak populer. AT Mahmud memiliki nama lengkap Masagus Abdullah Mahmud. Ia lahir di Kpang 5 Ulu Kedukan Anyar, Palembang, Sumatera Selatan, 3 Februari 1930 dan meninggal di Jakarta pada 6 Juli 2010 di usia 80 tahun.

Ketertarikannya dalam menciptakan lagu anak-anak dimulai pada tahun 1963. Saat itu ia ditugaskan mengajar di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak (SGTK). SGTK membuatnya dapat mengembangkan kemampuannya dalam bermusik karena pimpinan sekolahnya sendiri senang akan musik. Saat itu banyak muridnya yang membutuhkan lagu anak-anak untuk keperluian mengajar. Mereka pun datang ke AT Mahmud untuk meminta bantuan. AT Mahmud dengan senang hati menolong mereka dan itu membuatnya besar hati dan tekun mengarang lagu anak-anak.

Lagu-lagu yang ia ciptakan pun seringkali terinspirasi dari kehidupan sehari-hari yang ia alami. Contohnya lagu Main Ayunan yang terinspirasi ketika anaknya, Roike (yang saat itu masih berusia 5 tahun) bermain ayunan di Taman Puring. Lagu ini ia buat supaya anak-anak berhati-hati ketika bermain ayunan sehingga tidak terjadi kecelakaan.

Kemudian lagu Pelangi ia ciptakan denagn sebuah gitar setelah pulang dari mengantar anaknya yang bernama Rika sekolah. Di tengah perjalanan Rika tiba-tiba berteriak “Pelangi!” dan itu membuatnya memikirkan kata-kata yang tepat untuk melukiskan pelangi.

Ada juga lagu yang terinsipirasi dari anak sahabatnya, Emil Salim. Emil Salim merupakan Menteri Lingkungan Hidup di era Orde Baru. Emil memiliki anak perempuan bernama Amelia yang lincah, ramah, dan selalu ingin tahu. AT Mahmud menuangkan sifat-sifat Amelia ini pada lagunya yang berjudul Amelia.

Lagu-lagu yang ia ciptakan banyak disukai oleh guru-guru TK dan murid-murid. Kemudian ia membentuk kelompok aduan suara siswa SPG. Lagu ciptaannya terus bertambah dan tersebar di TK dan SD terdekat. Lagu-lagu tersebut terus tersebar ke sekolah lain. Radio Republik Indonesia (RRI) pun memintanya untuk mengisi program anak-anak di sore hari. Kesempatan ini ia manfaatkan untuk memperkenalkan lagu-lagu ciptaannya.

Berkat program radio tersebut, lagu-lagu ciptaannya mulai dikenal oleh khalayak. Pada tahun 1968, AT Mahmud diundang oleh TVRI. Ia diminta untuk menangani sebuah program anak-anak yaitu Ayo Menyanyi yang mulai disiarkan pada tanggan 3 Juni 1968. Pada tahun 1969 TVRI menambah program lagu anak-anak atas usulan AT Mahmud yaitu Lagu Pilihanku.

Setelah 20 tahun berjalan, tim produksi dari kedua program tersebut diminta mundur oleh TVRI karena suatu kebijakan dari pimpinan. Program Ayo Menyanyi masih berjalan dengan pembawa acara seorang artis, namun tidak berlangsung lama.

Karena program Ayo Menyanyi dan Lagu Pilihanku, beberapa perusahaan rekaman tertarik untuk merekam lagu anak-anak ciptaan AT Mahmud ke dalam piringan hitam. AT Mahmud juga sempat membuat buku kumpulan lagu.

Setiap kali mendengar lagunya dinyanyikan, AT Mahmud membayangkan hal yang menginspirasinya untuk menciptakan lagu itu. Baik itu perilaku dari anak-anak, pengalaman masa kecilnya, dan pesan-pesan yang ingin ia sampaikan pada anak-anak.

Screenshot

 

Behind The Scene

Movie Review

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super
3.5

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super

Yap! setelah Rock of Ages, kini Tom Cruise kembali ke layar lebar. Jack Reacher, film bergenre aksi ini sepertinya akan mengobati kerinduan penggemar atas absennya Mission Impossible tahun ini. Well,  Full Article »

Dec 29, 2012 Ξ Leave a comment