Tuesday 06th December 2016,

Movie Reviews

Ξ Leave a comment

Demi Ucok, Blak-Blakan tentang Kasih Ibu dan Film Indonesia

posted by Aisyah Nawangsari
Demi Ucok, Blak-Blakan tentang Kasih Ibu dan Film Indonesia
Review Rating
Story
Effect
Music

Genre: Drama
Director: Sammaria Simanjuntak
Actor: Geraldine Sianturi, Mak Gondut, Saira Jihan, Sunny Soon
Release Date: 3 Januari 2013

What We Like :
Cerita ringan dan masuk akal, humor tidak murahan, ilustrasi keren

What We Dislike :
kurang memasukkan unsur musik yang unik, beberapa adegan tidak penting, bawa-bawa suku dan adat apakah aman?

Sammaria Simanjuntak, saya tidak asing dengan nama ini. Saya mengagumi Sammaria sejak perilisan film cin(T)a. Jika film tersebut dibuat secara sederhana namun mengena, namun film keduanya ini jelas tidak ‘amatiran.’ Tidak diragukan lagi kemampuannya dalam membuat skenario. Terbukti dengan diraihnya piala citra kategori Skenario Terbaik untuk film pertamanya. Film Demi Ucok memiliki skenario yang mengena juga sama seperti film cin(T)a, membuat penonton mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dilakukan/dikatakan para aktor film.

Demi Ucok bercerita tentang Gloria Sinaga (Geraldine Sianturi), seorang wanita muda yang berambisi untuk membuat film keduanya. Ia bersikukus bahwa film kedua tidak boleh amatiran seperti film pertama. Karena itu ia tidak segera membuat film kedua karena terhalang dana. Ibu Glo, Mak Gondut (Mak Gondut) bersedia memberi Glo dana asalkan Glo segera menikah dengan orang Batak.

Glo, merupakan wanita modern yang ingin mengejar cita-citanya, bukan mengejar jodoh. Ia beranggapan bahwa menikah itu bisa memutus jalan menuju cita-cita. Ketika menikah, wanita cenderung melupakan mimpinya, berkutat dengan rumah tangga, dan live boringly ever after.

Walaupun tahu Glo ingin membuat film dan terus mengejar mimpi, namun Mak Gondut tetap memaksa Glo untuk segera menikah. Ini dikarenakan karena dokter memvonis hidupnya tinggal satu tahun lagi. Budaya Batak yang menekankan bahwa keberhasilan seorang wanita dilihat dari anaknya membua Mak Gondut bekerja keras untuk membuat Glo mencari suami Batak, bikin anak Batak, dan cari menantu Batak.

Glo yang skenarionya berkali-kali ditolak oleh produser berusaha untuk mencari dana tanpa meminta bantuan ibunya. Karena jika ia meminta bantuan ibunya, pasti ada syaratnya yaitu menikah dengan orang Batak!

Dunia film yang kelam

Kalimat ini berkali-kali diucapkan oleh Mak Gondut. Memang benar, Demi Ucok menggambarkan betapa sulitnya memproduksi film. Apalagi jika film-nya tidak diminati pasar sehingga para produser menolak untuk mendanai. Tidak adanya dana memang bisa memperlambat produksi film, bahkan hingga bertahun-tahun.

Mungkin itulah yang membuat film Indonesia banyak yang memiliki cerita asal-asalan dan tidak masuk akal. Cerita seperti kadang membuat penonton speechless dan illfeel. Ini seperti curhatan sang creator yang lelah dengan film Indonesia yang harus memiliki banci, hantu, dan susu untuk bisa laris, yah paling tidak didanai oleh produser. Jika benar para produser merasa penonton lebih suka film yang mengandung banci, hantu, dan susu, saya sarankan mereka untuk melakukan riset ulang.

Kasih ibu sepanjang masa

Kasih Mak Gondut kepada Glo sangatlah besar. Ia rela memberikan apa saja kepada Glo asalkan Glo mau menikah dengan Batak. Ibu dan anak yang sama-sama keras kepala digambarkan di film ini. Sang Ibu tentu menginginkan yang terbaik bagi anaknya dengan memaksa dia untuk menikah, karena bagaimanapun, orang tua akan lebih tenang jika anaknya telah menikah. Namun sang anak ingin mengejar cita-citanya sebagai pembuat film sehingga merasa bahwa ‘kasih sayang’ ibunya itu hanya mengganggu mimpinya saja.

Cerita ini sangat umum terjadi di masyarakat. Banyak wanita yang menolak untuk menikah dan ingin lebih fokus pada karir. Memang, Demi Ucok banyak mengangkat isu-isu umum yang terjadi di Indonesia. Salah satunya ya tentang kasih ibu tadi. ‘Kasih’ yang justru dianggap menganggu oleh sang anak. Kemudian isu mengenai perempuan yang menganut paham feminis, tidak membutuhkan pria untuk mencapai cita-citanya, kemudian isu kelamnya perfilman Indonesia, isu gay/lesbi/transgender, serta isu pembajakan DVD film yang dijual 20.000 rupiah untuk 3 keping DVD. Namun yang membuat saya terkagum-kagum adalah ide pengumpulan dana untuk produksi film melalui internet! Ini sangat inspirasional. Tampaknya saya bisa mencontoh metode ini jika ingin membuat film!

Ilustrasi apik

Demi Ucok memang memiliki skenario dan cerita yang sederhana namun mengena. Namun itu semua tidak ada artinya jika dikemas secara asal-asalan. Untungnya Sammaria memiliki ide untuk membuat film yang ‘dihiasi’ dengan ilustrasi-ilustrasi menarik sehingga membuat pesan yang disampaikan lebih bisa mengena di kepala penonton. Dengan adanya ilustrasi-ilustrasi tersebut, film jadi lebih mudah dipahami, lebih manusiawi, dan lebih enak ditonton.

Make-Up menor

Entah memang disengaja atau tidak, make-up Mak Gondut dan Glo terlihat terlalu menor, kurang alami. Ini membuat film ini memiliki kekurangan di mata saya. Jika memang make-up menor itu ditujukan untuk menunjukkan budaya Batak atau memiliki tujuan lain, saya tidak akan banyak bicara. Namun hingga saat ini saya tidak tahu mengapa make-up harus semenor itu. Make-up seperti Saira Jihan akan lebih enak dipandang.

Selain itu kehadiran Sunny Soon juga membuat saya sedikit bertanya-tanya di awal film, terutama saat dia mabuk. Saya baru bisa merasakan ‘manfaat’ Sunny Soon ketika dia telah sukses menjadi artis.

Curhat?

Jika diperhatikan, tampaknya film ini merupakan curhatan sang sutradara, Sammaria Simanjuntak. Susahnya mencari dana, film kedua harus jauh lebih bagus, serta pengumpulan dana melalui internet tampak seperti diary seorang pembuat film yang dibuat menjadi film. Tidak ada yang salah memang, namun jika benar film ini merupakan curhatan, semoga untuk film selanjutnya Sammaria memiliki ide yang lebih segar, bukan curhatan lagi.

Secara keseluruhan film ini sangat worth it untuk ditonton, terutama bagi Anda yang pesimis dengan film Indonesia. Saya sarankan untuk menontonnya di bioskop atau membeli DVD original, supaya mereka cepat kaya dan bisa membuat film bagus lagi.

Movie Review

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super
3.5

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super

Yap! setelah Rock of Ages, kini Tom Cruise kembali ke layar lebar. Jack Reacher, film bergenre aksi ini sepertinya akan mengobati kerinduan penggemar atas absennya Mission Impossible tahun ini. Well,  Full Article »

Dec 29, 2012 Ξ Leave a comment