Gending Sriwijaya, Kembalinya Cerita Kolosal di Perfilman Indonesia

1 year ago by in Movie Reviews Tagged: , , , , , , , ,

[alert style='3'][row][span4] [icon icon_name='film'] Review Rating

Story
Effect
Music
[/span4]

Genre: Drama Kolosal
Director: Hanung Bramantyo
Actor: Mathias Muchus, Julia Perez, Sahrul Gunawan, Agus Kuncoro, Jajang C. Noer
Release Date: 10 Januari 2013 [/row]

[icon icon_name='thumbs-up'] What We Like :
Terasa sekali ‘sejarah’nya, totalitas dari segi cerita, properti, setting, kostum, musik, ilustrasi, dan akting.

[icon icon_name='thumbs-down'] What We Dislike :
aksi bela diri kurang greget, bahasa juga masih kaku.

[/alert]

Film bertema kolosal ini membuat saya penasaran. Antara cemas jadinya akan seperti sinetron kolosal Indosiar atau luar biasa seperti film-film kolosal China. Ternyata memang Hanung Bramantyo adalah sutradara yang tidak bisa diragukan. Walaupun belum bisa dibilang ‘luar biasa,’ namun hasilnya sangat bagus dan bisa menjadi inspirasi bagi pembuat film lainnya. Akan sangat bagus dunia perfilman Indonesia ini jika paling tidak setiap tahunnya ada satu film bertemakan kolosal yang dirilis.

Sinopsis

Kisah berawal dari masa keruntuhan Sriwijaya akibat serangan dari kerajaan di India. Saat itu berdiri Kedatuan Bukit Jerai yang dipimpin oleh Dapunta Hyang (Slamet Rahardjo). Rakyat kedatuan ini mengalami kelaparan akibat penguasa yang serakah dan pejabat yang korupsi. Untuk membela rakyat dan menentang penguasa, Ki Goblek (Mathias Muchus) membentuk gerombolan perampok yang merampas harta hasil perdagangan orang-orang yang lewat di hutan.

Suatu kali sang putra mahkota, Awang Kencana (Agus Kuncoro) mendengar mengenai gerombolan perampok ini. Perampok ini akan mengancam usaha dagang Kedatuan dengan negara lain. Berbekal nekat, Awang Kencana dan pasukannya berangkat untuk menangkap perampok tersebut. Namanya juga ceroboh, pasukan Awang pun berhasil dijebak dan dikalahkan oleh pasukan perampok Ki Goblek. Bahkan di saat itu, Ki Goblek telah memiliki senjata yang bernama pistol dan menembakkan peluru tepat di mata kanan Awang Kencana.

Belum cukup kesialan yang menimpa Awang, ternyata Dapunta Hyang lebih memilih anak keduanya, Purnama Kelana (Sahrul Gunawan) untuk menggantikan dirinya sebagai raja. Keputusan ini ditentang oleh Sri Ratu (Jajang C. Noer) dan Awang karena bertentangan dengan tradisi yang selalu memilih anak pertama sebagai pengganti raja.

Beberapa hari setelah pengambilan keputusan, Dapunta Hyang tewas dibunuh. Beberapa bukti mengarah pada Purnama Kelana. Karena dituduh membunuh raja, Purnama pun dipenjara dan tinggal menunggu waktu untuk dihukum waktu. Tabib istana yang percaya bahwa Purnama tidak bersalah menggunakan trik Romeo & Juliet dengan meminumkan racun pada Purnama. Racun ini membuat jantung Purnama berhenti selama beberapa jam dan membuat orang-orang istana percaya bahwa Purnama telah meninggal. Sayangnya rencana ini tidak berjalan dengan mulus. Ketika Purnama akan meninggalkan istana, pasukan Awang memergokinya masih hidup.

Walaupun kakinya sempat terkena panah, namun Purnama terus berlari menjauh dari istana. Purnama yang pingsan ditemukan oleh Malini (Julia Perez) dan dibawa ke markas gerombolan perampok Ki Goblek.

Aksi Terbaik Julia Perez

Saya memilih untuk mengomentari Julia Perez dibandingkan dengan aktor/aktris lain karena dia memang mendapat spotlight di film ini. Bukan, bukan karena keseksiannya, namun karena kemampuan akting dan seni bela dirinya. Memang jika dibandingkan dengan aktor yang juga atlet silat, aksi Jupe bisa dibilang masih cupu, namun ini  membuktikan bahwa dia bukan artis yang hanya cari sensasi, dia punya kemampuan dan pekerja keras.

Di film ini Jupe berperan sebagai Malini, anak ketua gerombolan perampok, Ki Goblek. Terbiasa tinggal dengan para perampok sejak kecil membuatnya menjadi wanita tangguh dan tidak kenal rasa takut. Walaupun begitu, dia menginginkan adiknya, Biyan tidak menjadi seperti dirinya. Ia ingin Biyan belajar ke negara China atau India supaya otak adiknya lebih dihargai.

Julia Perez sendiri mengakui bahwa selama ia berkarir di hampir 20 film, baru kali ini aktingnya disambut dengan meriah. Di film ini ia melakukan semua gerakan bela diri sendiri, tanpa stunt person.

100% fiksi

Tampaknya banyak yang mengira film ini adalah film sejarah. Bahkan terdapat kontroversi mengenai film ini karena beberapa cerita yang dianggap tidak pernah terjadi di sejarah Palembang/Sriwijaya.

Hanung Bramantyo, sang sutradara pernah mengatakan bahwa ia membuat film fiksi yang berlatar sejarah. Awalnya ia ingin membuat film sejarah, namun karena terbatasnya data-data mengenai kerajaan Sriwijaya, ia akhirnya mengurungkan niat itu. Akhirnya dibuatlah film fiksi ini.

Genre baru

Well, sebenarnya Gending Sriwijaya bukan film dengan genre yang benar-benar baru. Sebelumnya, pada tahun 80-an terdapat film yang juga menggunakan setting kolosal berjudul Saur Sepuh. Namun setelah tidak muncul di layar lebar selama bertahun-tahun, akhirnya genre ini muncul kembali melalui tangan Hanung Bramantyo.

Selain mengangkat tema kolosal, Gending Sriwijaya juga dilengkapi dengan ilustrasi ala komik sejarah yang biasa saya baca saat saya masih kecil. Tampaknya menambahkan unsur gambar-gambar komik sedang trend di perfilman Indonesia. Ide ini sangat  bagus menurut saya karena penonton tidak dibuat bosan dengan melihat para aktor dan aktris berkeliaran di layar untuk melakukan adegan tidak penting.

Masih cupu

Jika harus berbicara mengenai kekurangan film ini, maka saya akan menunjuk kemampuan bela diri dan kemampuan berbahasa Palembang para aktor/aktris. Terkadang mereka mengucap dalam bahasa Palembang namun dengan logat Jakarta. Memang membutuhkan kerja ekstra keras untuk mempelajari seni bela diri (yang dilakukan para akor/aktris tanpa stunt person) dan bahasa Palembang.

Overall film ini sangat bagus dan membawa warna baru di dunia film Indonesia. Awalnya saya berharap film ini memiliki ending yang menggantung sehingga dibuat sekuelnya. Namun sayangnya harapan saya itu pupus ketika menonton film ini. Semoga selanjutnya akan ada film-film dengan genre kolosal berkualitas yang hadir di layar lebar Indonesia.

The author didnt add any Information to his profile yet

  • Published: 573 posts