Friday 09th December 2016,

Movie Reviews

Ξ Leave a comment

Impian, Keyakinan, dan Perjuangan + Nasionalisme = 5 cm

posted by Octavia
Impian, Keyakinan, dan Perjuangan + Nasionalisme = 5 cm

 Review Rating

Story
Effect
Music

Genre: Drama

Director: Rizal Mantovani

Actor: Denny Sumargo, Fedi Nuril, Herjunot Ali, Igor Saykoji,Pevita Pearce, Raline Shah

Release Date: 12 Desember 2012

 What We Like : 

Dalam film ini anda akan disuguhkan banyak pemandangan akan keindahan Indonesia, dan yang jelas pemandangan ini cukup membuat saya ‘ngiler’

 What We Dislike :

Akting yang kurang maksimal dari beberapa bintangnya

“Jadi kalau kita yakin sama sesuatu, cita-cita kamu, apapun itu yang mau kamu kejar, biarkan itu menggantung, mengambang 5 Cm di depan kening kamu, jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu, dan bawalah keyakinan serta mimpi itu setiap hari, yakinlah bahwa kamu bisa. Bilang kalau kamu nggak bisa menyerah, dan bilang kalau kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh.”

Tanpa saya beritahu pun ada semua pasti sudah mengerti quote siapa ini bukan?. Seketika, quote ini membuat saya merinding dan jantung berdebar-debar. Keyakinan yang terpancar dari kata-kata diatas benar-benar terasa hingga ke hati *maaf numpang curhat*.

Tapi memang itulah yang dirasakan sebagian orang yang melihat film ini. Diangkat dari novel laris karya Dhonny Dhirgantoro, cerita ini bercerita tentang mimpi, keyakinan, serta perjuangan. Untuk skala  film yang diadaptasi dari novel, mungkin tema ini terlalu umum, tetapi cara pengemasan Dhonny untuk menyampaikan pesannya sangat humble, sehingga membuat bukunya sarat akan nilai kehidupan tanpa harus memberatkan wacana yang ditulis dalam buku, begitu pula filmnya.

Rasa-rasanya sudah banyak yang tahu bagaimana alur dari cerita ini bukan?. Apa!?! belum tahu???, baiklah disini akan saya ceritakan sedikit gambaran dari film yang judulnya tidak lebih panjang dari deretan angka di penggaris saya.

 

Bisa dibilang tokoh utama disini adalah kelima karakter yang sering disebut-sebut sebagai kawanan power ranger. Istilah power ranger ini muncul melihat komposisi gender mereka, dimana terdiri dari 4 orang pria dan seorang wanita (cantik). Genta, Zafran, Arial, Ian serta Riani adalah nama lain dari power ranger tersebut. Awalnya terlihat kalau Zafran di dalam film ini diposisikan sebagai center dari sang power ranger ini, akan tetapi lama-kelamaan semakin terlihat bahwa ternyata karakter Genta-lah yang merupakan karakter center dalam kawanan pemeran utama ini.

Seperti halnya hubungan persahabatan yang semakin erat seiring bertambahnya waktu, begitu pula dengan persahabatan yang dijalin oleh para power rangers ini. Usia persahabatan yang memasuki tahun kesepuluh membuat mereka semua memiliki batasan yang sangat tipis dengan saudara kandung sendiri. Semuanya serba terbuka, tidak ada yang ditutup-tutupi. Akan tetapi ternyata kondisi ini menyebabkan beberapa orang ‘terpaksa’ menyimpan rasa cinta yang dirasakannya terhadap anggota power ranger yang lain. Alhasil, akhirnya Riani, si pemilik cinta tersebut terpaksa harus menyimpannya rapi-rapi selama sepuluh tahun. Tidak berhenti disitu, ternyata dilain pihak, Genta juga terjangkit virus yang sama seperti yang menjangkiti Riani. Entah apa yang membuatnya begitu jatuh hati kepada Riani, pertanyaannya adalah apakah Riani juga merasakan hal yang sama seperti Genta?.

Berarti novel ini novel cinta dong? wohooo, jangan salah. hal yang saya sebutkan diatas hanyalah ‘sampingan’ dari tema yang sebenarnya. Seperti yang sudah saya tuliskan diatas, tema utama novel ini tetap sama, yakni mimpi, keyakinan serta perjuangan.

Merasa telah berada di zona nyaman, kelima sahabat inipun mencoba hal baru diluar semua hal yang selama ini mereka lakukan bersama. Dimulai dari ‘puasa’ ketemuan hingga mendaki ke Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Jawa. Incredible, isn’t it ?. Dalam rentang waktu puasa tadi, mereka memperjuangkan mimpi-mimpi yang selama ini mereka percayai. Akhirnya, titik balik dari perjuangan ini adalah ketika mereka melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Seperti yang dibilang oleh seorang karakter dalam bukunya, perjalanan ke Mahameru (puncak semeru) bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati.

Filosofi yang coba disampaikan oleh sang penulis novelnya, tersampaikan dengan baik kepada para penonton filmnya. Film ini menyuguhkan nilai-nilai kehidupan vital yang saking biasanya, sudah mulai terlupakan oleh para manusia diluar sana. Banyak orang yang berani bermimpi, tetapi tidak berani mempercayai bahwa mimpinya akan terkabul, banyak juga orang yang bermimpi dan percaya kepada mimpinya, tetapi tidak pernah mau memperjuangkannya, hal inilah yang berusaha disampaikan oleh Rizal Mantovani sebagai sutradara.

Yang unik, dari lima karakter pemeran utama tadi, ada salah seorang pemain yang profesi aslinya bukanlah di dunia hiburan. Entah ingin mengejar ciri-ciri salah satu karakter yang atletis layaknya pebasket terkenal, tetapi disini Denny Sumargo tampil dengan memukau dan tanpa cela. Hasil yang sangat baik untuk kerja kerasnya menekuni bidang yang sama sekali belum pernah dijamahnya.

Sayangnya, tidak semua pemain menunjukkan kualitas yang sama dengan Denny. Ada beberapa pemain yang dalam film ini, tidak menunjukkan kualitas seperti saat mereka bermain dalam film lain. Fedi Nuril dan Raline Shah adalah salah satu contohnya. Entah karena terlalu ‘tidak biasa’ dengan settingnya atau hal lainnya, saya tidak tahu. Meskipun demikian, semuanya layak diberikan apresiasi karena dapat bertahan dalam kondisi yang ‘tidak biasa’ ini.

Soal efek memang film ini sangat rendah sekali dibidang tersebut. Memangnya efek apa yang anda harapkan dari film drama-komedi-romantis seperti ini?.

Untuk musiknya sendiri sangat kental dengan musik asli Indonesia. Aliran musik dari salah satu grup band Indonesia sangat sering diputar dalam film ini. Saking seringnya, saya mengira kalau grup band ini memang dikontrak ekslusif untuk mengisi film ini.

Plotnya sih termasuk kedalam golongan standar bagi film indonesia. Nilai plus untuk film ini adalah tema yang diangkat dan disandingkan dengan keindahan alam Indonesia yang akhirnya membuat nasionalisme semakin berkobar.

Kesimpulannya, film ini cukup recommended lah. Apalagi bagi pecinta bukunya.

Movie Review

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super
3.5

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super

Yap! setelah Rock of Ages, kini Tom Cruise kembali ke layar lebar. Jack Reacher, film bergenre aksi ini sepertinya akan mengobati kerinduan penggemar atas absennya Mission Impossible tahun ini. Well,  Full Article »

Dec 29, 2012 Ξ Leave a comment