Sunday 04th December 2016,

Movie Reviews

Ξ Leave a comment

“Jack the Giant Slayer”, Ratingnya Tidak Setinggi Pohonnya

posted by Utario Esna Putra
“Jack the Giant Slayer”, Ratingnya Tidak Setinggi Pohonnya
Review Rating
Story
Effect
Music

Genre: Adventure, Drama, Fantasy
Director: Bryan Singer
Actor: Nicholas Hoult, Eleanor Tomlison, Ewan McGregor, Stanley Tucci, Ian McShane
Release Date: 1  Maret 2013 (USA)

What We Like :

Yang suka dongeng angkat jempolnya tinggi-tinggi!

What We Dislike :

Film yang bergenre fantasi seharusnya sanggup membuat penonton lebih berfantasi lagi

Percayalah pemirsa. Saya tidak akan memberi rating setinggi pohonnya Jack. Karena sederhananya: film ini biasa saja. Apa kalimat pembuka saya sudah cukup menggambarkan review saya?

Sinopsis

Saat seorang petani muda, Jack (Nicholas Hoult) tanpa sengaja membuka sebuah gerbang yang sudah lama tertutup dan membawanya ke dunia raksasa. Tanpa ia disadari juga bahwa ia telah membuat dimulainya kembali perang kuno antara manusia dan raksasa. Para raksasa berusaha merebut kembali tanah mereka yang direbut berabad-abad lampau. Jack harus turut berjuang untuk menyelamatkan tidak hanya kehidupan orang-orang dari kerajaan, tetapi juga kehidupan sang putri yang telah diculik oleh raksasa.

Masih Terngiang-Ngiang “Hansel and Gretel”

Tentu saja ekspektasi saya tinggi karena tidak lama saya menonton “Hansel and Gretel”. Mengawali tahun 2013 ini, penonton disuguhka film adaptasi dongeng secara beruntun seperti gerbong kereta. Yang pertama “Hansel and Gretel”, lalu “Jack The Giant Slayer” dan hari ini premiere di Surabaya “Oz The Grerat and Powerful”. Saya masih terngiang-ngiang dengan “Hansel and Gretel”. Masih terkesan dengan bagaimana dongeng biasa ditampilkan semacam “Van Helsing”.

Itulah yang saya harapkan dari film adaptasi dongeng. Sutradara tidak cukup memvisualisasikan saja. Dia harus memberikan nilai plus…apapun itu. kalau cuma memvisualisasikan saja, okelah katakanlah pakai efek khusus tetap saja dalam hati ini saya merasa hampa.

Faktor Bryan Singer

Film dimulai dengan bagus, dalam artian tidak datar-datar saja. Bukannya langsung menceritakan Jack disuruh jual sapi atau kuda ke pasar seperti dongeng yang biasa kita dengar, tapi dimulai dengan ayah Jack mendongeng sebelum tidur. Baru bertahun-tahun kemudian cerita kacang ajaib dimulai. Bryan cukup cerdas mengolah pembukaan filmnya.

Selanjutnya bisa ditebak karena kebanyakan penonton sudah tahu ceritanya. Kecerdasan sutradara Bryan mengolah cerita nampaknya sudah usai di dua puluh menit pertama film dimulai. Selanjutnya terkesan terlalu fokus  mengurusi CGI. Beberapa film adaptasi dongeng mencoba mengejutkan penonton dengan cerita (seperti “Tangled” yang merupakan adaptasi “Rapuntzel”) atau mengejutkan dengan alat yangg aneh-aneh (seperti “Hansel and Gretel” dan “Van Helsing”). Film ini jelas bukan termasuk di dalamnya.

Kalau penonton berusia lebih dari 9 tahun saya yakin akan mudah dibuat bosan. pasangan Jack (Nicholas Hoult) dan Putri Isabelle (Eleanor Tomlison) kurang punya chemistry. Bahkan Jack tidak punya dialog yang begitu berkesan untuk dikutip. Tidak ada kata-kata penuh inspirasi dari tokoh utama. Halo apa kabar? Padahal dia memanjat pohon setinggi langit, membunuh raksasa, dan menyelamatkan seorang putri.

Saya curiga ini karena faktor Bryan Singer. Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana dia membuat “Superman Returns” menjadi supeeer datar. Hampa.

Buang-Buang Uang

Dan yang paling mengejutkan, potensi aktor tidak dimanfaatkan dengan baik di sini. Dengan deretan nama aktor semengkiulap itu, rasanya film ini bisa lebih berwarna. Ternyata tidak. Kita lihat satu per satu. Nicholas Hoult sebenarnya bisa mengeluarkan aura seorang pahlawan penyelamat putri raja dan pembunuh raksasa. Anehnya, tidak dilakukan. Dia tetap berlagak seperti anak petani yang melakukan semuanya secara kebetulan saja. Kurang menginspirasi. Selanjutnya ada Stanley Tucci yang memerankan Roderick. Tampang Stanley yang menyebalkan saja sudah cukup untuk membuatnya menjadi karakter antagonis, namun tidak ada cukup ruang untuk itu. Ada lagi Eewen Bremmer. Aktor yang spesialis memerankan tokoh sial ini sebenarnya berpotensi membuat cerita lebih segar. Dengan plate armor yang hampir selalu dikenakannya terlihat dia mencoba menampilkan sosok ikonik seorang kaki tangan tokoh penjahat…dengan gayanya itu. Entah kenapa juga kurang maksimal. Yang paling sulit dimaafkan adalah penampilan EwanMcGregor. Aktor sekaliber dia nyata-nyata tidak tampil layaknya bintang.

Siapa yang salah? Jalan cerita yang tidak memberikan cukup ruang bagi para aktor untuk memaksimalkan peraannya atau penyutradaraaan yang kurang mantab? Bagi Anda yang mulai berpikir jangan-jangan ini karena faktor naskah, saya beri satu nama: Christopher McQuarrie. Ini orang yang juga menulis naskah “The Tourist”. Saya masih mencurigai faktor Bryan.

 

Movie Review

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super
3.5

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super

Yap! setelah Rock of Ages, kini Tom Cruise kembali ke layar lebar. Jack Reacher, film bergenre aksi ini sepertinya akan mengobati kerinduan penggemar atas absennya Mission Impossible tahun ini. Well,  Full Article »

Dec 29, 2012 Ξ Leave a comment