Saturday 10th December 2016,

Movie Reviews

Ξ Leave a comment

Monster in Paris, Fiksi Ilmiah di Dalam Dongeng

posted by Aisyah Nawangsari
Monster in Paris, Fiksi Ilmiah di Dalam Dongeng

 Review Rating

Story
Effect
Music

Genre: Animasi

Director: Bibo Bergeron

Actor: Sean Lennon, Vanessa Paradis

Release Date: 12 Oktober 2011 (Eropa), 27 Januari 2012 (Amerika)

 What We Like : 

Komposisi antara fiksi ilmiah, drama percintaan klasik, musikal, dan sedikit action yang pas sehingga tidak membosankan untuk ditonton.

 What We Dislike :

Terkadang lebih memfokuskan pada kisah cinta Raoul-Lucille dan Emile-Maud daripada kisah dari Monster itu sendiri

Mungkin sedikit membingungkan mengapa saya menulis judul seperti di atas padahal genre dari Monster in Paris itu sendiri bukanlah fiksi ilmiah dan sama sekali tidak ada unsur dongeng di dalamnya. Menonton Monster in Paris memang memberi kesan sedang menonton dongeng anak-anak yang sering diproduksi oleh Disney di tahun 90-an dengan cerita mengenai kecerobohan manusia yang bermain-main dengan hal-hal ilmiah yang akhirnya menciptakan kekacauan.

Berawal dari dua sahabat Emile (Sebastian Desjour/ Jay Harrington) dan Raoul (Gad Elmaleh/ Adam Goldberg) yang mengantar barang ke kediaman seorang profesor biologi. Kebetulan sang profesor sedang tidak ada di tempat sehingga mereka ‘disambut’ oleh asistennya yang berwujud seekor monyet bernama Charles. Karena rasa penasaran Raoul terhadap hal-hal yang berbau ilmiah, maka ia tidak segera pergi begitu selesai mengantar barang. Raoul melihat-lihat laboratorium sang profesor dan bereksperimen dengan beberapa zat ilmiah. Aksi pencegahan yang dilakukan oleh Charles tidak bisa menghentikan rasa penasaran Raoul. Ia memang dilahirkan untuk bereksperimen (sebelum ini ia sudah bereksperimen dengan mobilnya yang ia beri nama Chaterine).

Setelah bereksperimen beberapa kali, Raoul secara tidak sengaja menciptakan ramuan yang dapat menumbuhkan tumbuhan dan hewan ratusan kali lebih besar. Ketika terjadi ledakan di laboratorium mereka tidak sadar bahwa ramuan itu mengenai kutu di tubuh Charles dan ia tumbuh menjadi monster setinggi dua meter.

Monster (Matthieu Chedid/ Sean Lennon) ini akhirnya berkeliaran di kota Paris dan membuat seluruh warga ketakutan. Komisaris Maynott (Francois Cluzet/ Danny Huston) yang mengetahui tentang hal ini memanfaatkannya untuk mengalihkan isu banjir Seine yang melanda kota Paris. Bukannya menangkap Emile, Raoul, dan Charles yang telah menciptakan kutu raksasa itu, Maynott malah memberi mereka medali kehormatan. Konflik dari cerita sudah mulai terlihat sampai di sini.

Konflik bertambah ketika Lucille (Vanessa Paradis), penyanyi opera yang sangat tenar di Paris tanpa sengaja bertemu dengan sang monster. Awalnya ia ketakutan setengah mati karena bertemu dengan makhluk yang sangat asing baginya. Namun rupanya ‘penolakan’ dari Lucille membuat sang monster bersedih. Ia terduduk dan mulai bernyanyi mengenai kemalangannya karena ditakuti oleh orang seantero kota. Lucille yang mendengar itu menjadi luluh dan bersedia ‘menerima’ sang monster. Lucille mengajaknya ke kamar dan memberinya pakaian untuk penyamaran supaya tidak ada penduduk kota yang mengenalinya. Lucille bahkan memberinya sebuah nama, yaitu Francour. Sampai di sini saya sudah bisa menebak endingnya. Tidak akan jauh beda dengan film King Kong.

Dan benar saja, ketika komisaris Maynott mengejar monster itu mati-matian, Lucille malah melindunginya bahkan mengajak Francour untuk berduet dengannya di sebuah pertunjukan. Raoul yang menyukai Lucille serta Emile juga berusaha melindungi Francour karena telah terbukti bahwa monster itu tidak pernah menyakiti manusia dan fakta bahwa dia memiliki suara yang merdu serta dapat memainkan gitar lebih baik daripada manusia.

Ending dari film ini tidak mengharukan karena Francour tidak terbunuh, walaupun awalnya semua tokoh beranggapan Francour telah mati. Bahkan Lucille tidak mau menyanyi lagi karena ia terlalu sedih. Namun karena mendapat semangat dari kekasihnya, Raoul, akhirnya ia naik ke panggung. Ketika akan bernyanyi ia menyadari bahwa Francour masih hidup. Ia tidak terbunuh, ia hanya kembali ke ukuran aslinya dan bertengger di telinga Lucille sambil menyanyikan lagu-lagu. Hal ini membuat Lucille menjadi semakin bersemangat menyanyi.

Komposisi yang Pas

Monter in Paris yang diproduseri oleh Luc Besson  ini memiliki keunikan yaitu mencampurkan antara fiksi ilmiah, drama percintaan klasik, musikal, dan sedikit action dalam bentuk film animasi. Karena memiliki komposisi yang banyak dan pas, maka selama menonton, hampir tidak ada rasa bosan karena adegan yang ‘begitu-begitu’ saja. Tidak ketinggalan, humor pun seringkali disisipkan di sana sini sehingga penonton merasa terhibur dan tidak jenuh.

Film yang diproduksi di Prancis ini menampilkan kota Paris di tahun 1910 yang sedang diterjang banjir dari sungai Seine (yang entah mengapa gagal membuat saya berhenti berdecak mengagumi keeksotisannya). Di film ini juga ditampilkan keklasikan budaya Eropa di tahun 1910. Kostum yang dikenakan oleh para tokoh pun menyesuaikan dengan kostum kuno khas Paris yang mengencangkan bagian pinggang dan menonjolkan bagian pinggul (untuk perempuan) dan jas serta topi (untuk laki-laki). Setting tempat dan setting waktu serta properti di film ini membuat kesan sedang menonton dongeng atau paling tidak seperti menonton drama klasik. Keklasikan dari film ini ditunjukkan dengan Emile yang bermain-main dengan kamera kuno, Raoul dengan mobil bututnya yang ia modifikasi dengan berbagai teknik ilmiah (atap dan pintu mobil dapat dibuka dengan menggunakan remote control) yang tentu saja sangat aneh jika itu terjadi di tahun 1910, Lucille yang menjadi penyanyi opera dan budaya menonton opera yang sangat kental. Tokoh Komisaris Maynott juga menunjukkan keklasikan dari film ini, ia adalah bangsawan yang sangat berkuasa dan dapat melakukan apa pun yang ia mau.

Kerakusan dan ketamakan Komisaris Maynott akan kekuasaannya di Kota Paris menjadi daya tarik di sini. Maynott menjadikan Francour  sebagai alat untuk mendapatkan perhatian dan dukungan dari masyarakat. Namun akibat ‘skenario’ yang ia buat, kota Paris menjadi semakin kacau, apalagi dengan obsesinya untuk menangkap Francour dengan segala cara termasuk merusak segala fasilitas umum di Kota Paris. Bahkan Pate yang awalnya sangat setia melayani Komisaris Maynott ‘berbalik haluan’ menjadi geram dan malah menangkapnya atas tuduhan membuat kekacauan di Paris. Obsesi Maynott untuk menangkap Francour memang tidak beralasan selain untuk mendapat perhatian dan dukungan masyarakat supaya ia terpilih menjadi walikota. Francour sendiri, walaupun wujudnya adalah Monster, namun ia tidak pernah menyakiti seorang manusia pun, berbeda dengan Maynott yang manusia namun tidak semanusiawi Francour.

Jujur saya sedikit terkejut ketika Raoul bereksperimen dengan mobilnya yang ia panggil Chaterine. Awalnya saya mengira film ini akan pernuh romantisme dan takhayul. Pada scene inilah nuansa fiksi ilmiah di dalam dongeng itu terasa. Raoul membuka dan menutup pintu-pintu yang ada di dalam mobilnya dengan menggunakan remote control yang bahkan hingga saat ini tidak semua mobil dapat melakukan itu. Belum cukup sampai di sini, nuansa fiksi ilmiah juga terasa ketika Raoul bereksperimen di laboratorium dan bermain-main dengan zat-zat kimia yang akhirnya menciptakan seekor monster.

Sedikit terkejut juga ketika Lucille benar-benar bernyanyi dan menari seperti di film musikal atau mungkin lebih tepatnya seperti di dongeng-dongeng ciptaan Disney yang selalu menyisipkan lagu-lagu dan tarian di filmnya. ‘Bahan-bahan’ dari film ini banyak dan pas (saya analogikan seperti salad atau rujak). Mungkin ada bahan yang tidak kita suka, namun masih ada bahan lain yang bisa kita nikmati. Jika kita menyukai semua bahannya tentu saja ‘makanan’ itu akan sangat sempurna.

Tidak Sebagus Pixar Namun Tidak Amatiran

Monster in Paris merupakan film animasi buatan eropa yang jarang sekali diproduksi. Walaupun animasinya tidak sebagus animasi Amerika namun ia mampu  menghadirkan warna-warna yang ceria khas pixar dan enak dipandang. Setiap tokoh dibuat dengan karakter yang kuat dan eye-catchy sehingga penonton tidak kebingungan membedakan tokoh satu dan yang lainnya. Kemudian terdapat beberapa scene yang menampilkan koreografi yang dilakukan oleh Lucille dan Francour. Meskipun koreografinya tidak bisa dibilang hebat, namun cukup menghibur dan (sekali lagi) tidak membuat film ini membosankan.

Film Musim Panas vs Film Musim Dingin

Film Monter in Paris rilis di Eropa pada bulan Oktober 2011 yaitu saat musim gugur menjelang musim dingin. Namun setting waktu di film ini adalah musim dingin, lebih tepatnya di akhir Januari, yaitu saat banjir Seine melanda kota Paris. Terdapat satu scene dimana salju turun. Para tokoh yang memakai kostum serba panjang, mantel, dan syal yang melilit leher juga menandakan dinginnya cuaca di film ini.

Banyak film layak tonton yang dirilis pada musim dingin. Salah satu penyebabnya mungkin karena liburan musim dingin sekaligus menyambut natal. Dengan begitu pasar akan mendukung terutama film untuk anak-anak. Pasar merupakan salah satu hal yang dipertimbangkan ketika akan merilis film, namun bukan satu-satunya. Ada hal lain yang dipertimbangkan untuk menentukan kapan film tersebut akan dirilis.

Terdapat empat musim yang berbeda dalam satu tahun untuk belahan bumi bagian utara (dan sebagian besar film diproduksi di belahan bumi bagian utara), namun ‘musim’ film terbagi menjadi dua yaitu film musim panas dan film musim dingin.

Musim panas sangat penting bagi dunia produksi film karena di saat-saat inilah produsen film dapat meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Biasanya di musim ini film tentpole akan dikeluarkan. Film tentpole merupakan film yang dapat menghasilkan keuntungan yang banyak. Contohnya, sebuahn film diproduksi dengan biaya 100 juta dollar, namun ia bisa menghasilkan lebih dari 1 milyar dollar di box office, maka film ini dapat disebut sebagai film tentpole. Film ini sangan menguntungkan dan dapat menutupi kerugian yang didapat dari film lain (dari produsen yang sama).

Eksekutif di dunia perfilman menggunakan strategi ini untuk meyakinkan bahwa studio mereka untung di akhir tahun (ketika tutup buku), walaupun beberapa film yang mereka produksi mengalami kegagalan. Ini berarti kesuksesan sebuah industri film sangat bergantung pada film tentpole yang mereka produksi. Mengapa tentpole diproduksi di musim panas? Karena musim panas merupakan saat-saat dimana anak sekolah dan kuliahan libur sehingga jumlah penonton akan naik secara drastis dan sangat potensial. Bahkan film yang memiliki rating PG atau PG-13 pun memiliki penonton yang potensial dan jumlahnya meningkat. Namun ini tidak terjadi untuk film dengan rating R karena banyak orang tua yang melarang anak mereka untuk menontonnya.

Box office di musim panas menerima pendapatan yang cukup besar. Dengan banyaknya film ‘bagus’ yang keluar, tiket bioskop hampir selalu sold out. Ini tidak terjadi pada box office di musim dingin yang menerima pendapatn tidak begitu besar. Namun, walaupun musim dingin tidak menghasilkan uang sebanyak di musim panas, tetap saja musim ini sangat penting bagi studio film, karena begitu mereka merilis film maka mereka akan dapat ‘dihitung’ untuk masuk ke dalam penilaian untuk acara-acara penghargaan.

Penghargaan seperti Academy Awards dan Golden Globes diadakan satu atau dua bulan di awal tahun. Studio menganggap bahwa film yang baru akan lebih mudah diingat oleh voter daripada film yang lama. Film yang rilis di bulan Desember akan olebih mudah diingat oleh voter dibandingkan dengan film yang rilis di bulan Mei.

Kebanyakan film yang rilis di musim dingin merupakan film dengan genre drama yang tidak selalu memiliki banyak penonton. Beberapa film menguntungkan dan beberapa malah merugikan studio. Bagaimanapun jika mereka memenangkan penghargaan, maka studio akan merasa ‘lega’ karena kebanggan atas penghargaan yang diraih tersebut. Dengan memenangkan penghargaan, penjualan DVD dari film itu akan laris manis dan memberikan mereka keuntungan materi.

Namun tetap saja film di musim panas masih lebih banyak menghasilkan uang dibandingkan dengan film musim dingin.

Banjir Seine

Banjir Seine merupakan nama untuk banjir yang tengah melanda kota Paris yang terjadi di film Monster in Paris. Banjir ini berasal dari sungai Seine yang meluap. Sungai Seine adalah sungai utama untuk transportasi air di Paris.

Sungai Seine memiliki banyak sejarah bagi masyarakat Prancis. Salah satunya adalah banjir Seine yang terjadi pada tahun 1910, tahun yang sama dengan setting waktu film Monster in Paris.

Pada Januari 1910, sungai Seine meluap setinggi 6.1 meter di atas normal dan menenggelamkan sebagian jalan di kota Paris. Banjir ini membuat sebagian masyarakat harus mengungsi ke tempat lain yang lebih kering. Banjir pada tahun itu merupakan yang terparah sejak tahun 1658 yang mana sungai Seine meluap hanya beberapa senti saja.

Kejadian ini berawal pada akhir Januari tahun 1910. Saat itu merupakan musim dingin dan berbulan-bulan sebelumnya curah hujan sangat tinggi. Sungai Seine membanjiri kota Paris dan menenggelamkan subway dan basement. Banjir di musim dingin di Paris sudah biasa terjadi, namun pada tanggal 21 Januari, air sungai mulai naik lebih cepat daripada biasanya. Seminggu setelahnya, masyarakat kota Paris mulai dievakuasi. Air mulai memasuki gedung-gedung dan mematikan infrastruktur kota. Polisi, pemadam kebakaran, dan tentara bergerak untuk mengevakuasi masyarakat yang terjebak dan mendistribusikan bantuan. Mereka yang menjadi korban banjir mengungsi di gereja-gereja, sekolah-sekolah dan gedung-gedung pemerintahan. Untuk tetap beraktifitas ke seluruh kota, mereka bepergian dengan perahu atau menyebrang melalui jembatan kayu yang dibangun oleh pemerintah dan masyarakat Paris.

Di dalam film Monster in Paris terdapat scene dimana Maud pergi ke menara Eiffel dengan menggunakan perahu karena ia percaya bahwa Emile sedang menunggunya untuk berkencan di sana. Terlihat bahwa daerah sekitar menara Eiffel lumpuh karena banjir dan tidak ada satu orang pun di sana.

Perkiraan kerugian atas banjir tersebut adalah 400 juta Franc atau 13,8 trillun Rupiah modern. Banjir mencapai titik tertinggi setelah 10 hari dan surut sepenuhnya setelah 35 hari.

Screenshot

 

Movie Review

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super
3.5

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super

Yap! setelah Rock of Ages, kini Tom Cruise kembali ke layar lebar. Jack Reacher, film bergenre aksi ini sepertinya akan mengobati kerinduan penggemar atas absennya Mission Impossible tahun ini. Well,  Full Article »

Dec 29, 2012 Ξ Leave a comment