Saturday 03rd December 2016,

Movie Reviews

Ξ Leave a comment

Perahu Kertas, Versi Visual dari Novel Terkemuka Karya Dewi Lestari

posted by Octavia
Perahu Kertas, Versi Visual dari Novel Terkemuka Karya Dewi Lestari

 Review Rating

Story
Effect
Music

Genre: Drama

Director: Hanung Bramantyo

Actor: Adipati Dolken, Elyzia Mulachela, Kimberly Ryder,Maudy Ayunda, Reza Rahardian

Release Date: 16 Agustus 2012

 What We Like : 

Sang sutradara dapat menyajikan alur yang kompleks dengan rapi dan tertata

 What We Dislike :

Beberapa adegan pamungkas kurang terasa feelnya

Bukan pertama kalinya sutradara Hanung Bramantyo mengadaptasi film dari sebuah novel laris Indonesia. kali ini, giliran novel laris dari penulis berbakat Dewi Lestari (Dee) yang berjudul Perahu kertas diangkat menjadi sebuah film layar lebar. Bagi para pecinta novel Dee (termasuk saya) pastinya telah membaca atau paling tidak mengerti novel seperti apakah perahu kertas ini. Dee, dengan gaya khasnya selalu dapat memikat pembacanya dengan alur dan kata-katanya yang sangat cemerlang, sehingga secara tidak sadar kita akan terbius kedalam cerita novel tersebut hingga lembar terakhir novelnya. pertanyaannya, bagaimana dengan Perahu Kertas versi film karya Hanung Bramantyo ini?

Kugy (Maudy Ayunda) merupakan seorang mahasiswa tingkat pertama yang bercita-cita menjadi pendongeng di Fakultas Sastra sebuah perguruan tinggi di Bandung. Dirinya memiliki kebiasaan unik yang sangat abstrak, yaitu membuat sebuah tulisan dalam sebuah kertas yang kemudian dibentuk menjadi sebuah perahu dan dilarungkannya ke sungai.

Di Bandung Kugy memiliki seorang sahabat masa kecil yang bernama Noni (Sylvia Fully R) yang berpacaran dengan Eko (Fauzan Smith). Pertemanan diantara ketiganya kemudian membawa Kugy bertemu dengan Keenan, sepupu dari Eko.

Keenan sendiri merupakan seorang pelukis berbakat yang dipaksa untuk berkuliah di Fakultas Ekonomi oleh ayahnya dengan alasan merupakan anak tertua yang nantinya akan menggantikan sang ayah untuk meneruskan bisnisnya.

Mereka berempat kemudian menjalin persahabatan yang kompak. Dari saling mengagumi satu sama lain, Kugy dan Keenan kemudian saling jatuh cinta. Akan tetapi hal tersebut terhalang oleh perjodohan Wanda (Kimberly Ryder) dengan Keenan yang didalangi oleh Noni. Bermula dari sikap defensif, persahabatan Kugy dan Noni pun kemudian mengalami perpecahan. Kugy mulai menjauh dari Eko dan Keenan, dan bahkan Kugy memutuskan hubungan dengan sang pacar.

Memutuskan untuk mengejar cita-citanya, Keenan berhenti dari kuliah dan pergi ke rumah Pak Wayan untuk mendalami seni lukis. Disana Keenan mendapat bantuan dari keponakan Pak Wayan yang bernama Luhde (Elyzia Mulachela) dalam mengembalikan semangat melukisnya. Dilain pihak, Kugy yang sudah tidak tahan dengan keadaannya memutuskan untuk pindah kos dan menyelesaikan kuliahnya di Bandung untuk segera pulang kembali ke Jakarta.

Meskipun terpisah cukup lama, akhirnya takdirpun mempertemukan mereka kembali dalam sebuah momen bahagia milik seseorang. Takdir ternyata tidak rela cerita mereka hanya berhenti sampai disana. Dengan keadaan yang cukup pelik, mampukah keduanya saling mengungkapkan apa yang berada di benak masing-masing?

Sekali lagi saya harus mengacungkan jempol untuk Hanung Bramantyo dalam menggarap alur yang penuh percabangan ini. Alur yang disajikan cukup rapi dan tidak membingungkan. Dengan mulusnya cerita ini bercabang-cabang memperlihatkan beberapa kondisi berbeda yang tengah dialami oleh aktor dan aktrisnya.

Visual yang disajikan pun juga cukup menghibur mata, tidak melulu seperti sinetron yang hanya menyajikan pemandangan di dalam ruangan. Walaupun dapat dikatakan tidak dapat memanjakan mata penonton sepenuhnya.

Hanya saja, kesan nanggung terlihat sekali dalam film ini. Akhir dari ceritanya dibuat menggantung tidak jelas arahnya, ini salah satu kekurangan dari hampir semua film Indonesia yang direncanakan akan dijadikan franchise seperti film ini. Menurut saya, masih banyak cara untuk member ending sebuah film franchise yang cukup memuaskan penonton.

Yang juga saya rasakan kurang disini sebagai penonton adalah ‘feel’ yang ingin disampaikan oleh para bintangnya. Saya merasakan sang pemain sendiri kurang dapat menguasai penghayatan dari karakter yang dimainkannya, meskipun pencitraan dari masing-masing karakter sudah dibawakan cukup bagus oleh para bintangnya, tetapi feel yang yang seharusnya dirasa oleh para penonton masih kurang dapat dikuasai oleh para pemainnya, terutama para bintang utamanya. Akan tetapi hal itu masih dapat dicover oleh aspek-aspek lain yang disajikan dalam film ini.

Foto-Foto Perahu Kertas

Movie Review

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super
3.5

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super

Yap! setelah Rock of Ages, kini Tom Cruise kembali ke layar lebar. Jack Reacher, film bergenre aksi ini sepertinya akan mengobati kerinduan penggemar atas absennya Mission Impossible tahun ini. Well,  Full Article »

Dec 29, 2012 Ξ Leave a comment