Sunday 04th December 2016,

Movie Reviews

Ξ Leave a comment

Prometheus, Kilas Balik Kisah Alien, Prekuel Yang Garansikan Sukses

posted by Erwind Prasetyo
Prometheus, Kilas Balik Kisah Alien, Prekuel Yang Garansikan Sukses

 Review Rating

Story
Effect
Music

Genre: Science Fiction, Thriller

Director: Ridley Scott

Actor: Charlize Theron, Guy Pearce, Idris Elba, Logan Marshall-Green, Michael Fassbender, Noomi Rapace

Release Date: 6 Juni 2012

 What We Like : 

Inilah perpanjangan franchise Alien yang seharusnya, ketimbang memaksakan cerita si Alien bergulat melawan Predator

 What We Dislike :

Nggak ada Sigourney Weaver…serasa nonton Superman yang bukan Christopher Reeve

 

Akhirnya! Dongeng Alien Kembali Ngetop, Meski Tanpa Si Alien Monyong

Kata alien memang umum. Sudah banyak sekali film yang mengangkat unsur alien di bioskop. Dari yang baik hati (seperti E.T.), penuh guyonan konyol (serial MiB), mengutamakan action, perang, atau bahkan yang memberi bumbu thriller. Namun kalau ditanya film apa yang paling membekas pada kata alien, tentunya adalah film Alien itu sendiri. Ya, film monster makluk luar angkasa hitam yang bermulut monyong, berliur asam, dan suka mengeram di perut manusia itu…

Alien, Aliens (sekuelnya), dan Alien 3 adalah trilogi film yang sukses. Selalu menyabet award di event penghargaan industri film internasional, mencatat rekor Box Office, dan meroketkan nama Sigourney Weaver. Namun sejak film keempatnya, Alien: Resurrection, franchise ini mulai menurun, dan makin terus tenggelam. Bahkan dua film berikutnya yang mengambil “paksa” nama Alien untuk ditarungkan dengan makluk luar angkasa lain (Predator), jeblok total. Bukannya menuai duit dan pujian, malah panen kritik dan hujatan. 20th Century Fox seakan kapok untuk bikin film dengan nama Alien lagi.

Bertolak dari menurunnya kualitas dan prestasi film Alien di pasar sejak film keempat yaitu Alien: Resurrection dan dua film Alien vs Predator, 20th Century Fox agak skeptis ketika ada ide pembuatan film baru yang mengangkat figur Alien ini. Untungnya, Prometheus tidak benar-benar menggunakan nama Alien dalam judulnya. Mungkin ini juga jadi pertanda kalau 20th Century Fox seakan ingin buang sial. Namun sebenarnya, senjata utama dalam film terbaru yang masih masuk ke keluarga franchise Alien ini ada dua. Pertama, adalah kembalinya Ridley Scott sebagai sutradara, setelah perannya selalu digantikan oleh sutradara lain selama ini (yang kebanyakan kurang beken, kecuali James Cameron). Kedua, adalah karena film ini tidak memaksakan sebagai sekuel film-film Alien pendahulunya. Melainkan, ini adalah sebuah prekuel. 20th Century Fox mencuri resep sukses reboot film Star Trek dua tahun lalu.

Untuk Anda yang tergolong penonton generasi baru dan kurang akrab dengan film-film Alien terdahulu, ini adalah film yang sangat berkualitas. Dan Anda pasti tak tahu bahwa film ini sebenarnya berhubungan dengan film-film Alien yang sudah muncul sejak tahun 1979. Kini, Anda wajib menonton film-film lamanya agar bisa menikmati kisah Alien secara lengkap. Sedangkan untuk Anda yang sudah mengikuti film Alien sejak dulu, jangan takut! Film ini tidak se-lebay dan se-jayus kedua film Alien vs Predator. Dan film ini adalah prekuel film Alien yang pertama dulu.

 

Kehilangan Unsur Thriller Dari Bau Khas Film Alien Klasik

Awalnya saya mengira Prometheus adalah pesawat luar angkasa resmi yang mewakili misi mulia seluruh manusia bumi demi mencari harapan baru di luar sana… Tapi saya salah. Prometheus hanya pesawat canggih yang dibikin dari dana seorang kaya raya, yang menyimpan hasrat untuk mencari harapan akhir memperpanjang hidupnya. Apa hubungannya dengan harapan hidup? Sebutlah sosok Peter Weyland, pemilik Weyland Corp yang diperankan oleh Guy Pearce. Ia menangkap temuan brilian pasangan ilmuwan Elizabeth Shaw (diperankan Noomi Rapace) dan Charlie Holloway (diperankan oleh Logan Marshall-Green) tentang kehadiran makluk luar angkasa di bumi, ribuan tahun lalu. Yang kemudian dipercaya sebagai “pencipta” manusia, karena dipuja oleh para manusia bumi ribuan tahun lalu.

Maka hadirlah Prometheus yang digunakan untuk menjelajah ke suatu planet yang dianggap asal para “pencipta” manusia itu. Tim ekspedisi ini dipimpin oleh Meredith Vickers, yang diperankan oleh Charlize Theron. Ia menjadi sosok rasional, dingin, dan tentu saja paling seksi dan cantik di film ini. Sedangkan Prometheus sendiri dikendalikan oleh tim pilot di bawah pimpinan Kapten Janek (diperankan oleh Idris Elba). Tokoh utama dalam film ini sebenarnya adalah Shaw dan David. David adalah “sebuah” android humanoid yang diperankan oleh Michael Fassbender. Ia memiliki agenda tersendiri yang disematkan penciptanya, Weyland. Beberapa konflik muncul karena Shaw dan Charlie lebih berpegang pada mimpi ilmiah dan idealisme mereka. Sedangkan David murni melakukan segalanya untuk kepentingan Weyland.

Planet yang dilabuhi oleh tim Prometheus ternyata bukanlah planet asal ras alien yang dianggap “pencipta” manusia itu. Meski mereka sukses menemukan fakta bila alien yang dianggap “pencipta” mereka ini benar-benar sangat mirip dengan manusia. Bahkan memiliki DNA yang identik. Nyatanya, planet ini lebih pas disebut sebagai planet “ladang” yang sengaja digunakan untuk membiakkan ras alien lain, dengan tujuan untuk dibawa ke bumi. Pendek kata, mereka nyasar… Sayangnya, alien pembunuh inilah yang justru mencelakai tuannya (alien yang dipercaya sebagai “pencipta” ras manusia). Dan kehadiran tim Prometheus, lengkap dengan segala kecerobohan mereka (ditambah kecelakaan dan kondisi alam tak bersahabat) seakan menjadi pemicu kembali hidupnya alien pembunuh tersebut.

Sepertinya makin panjang sinopsis ini saya beberkan, bakal membuka lebih banyak spoiler menarik bagi Anda. Jadi ada baiknya stop di sini, dan saya tutup dengan penegasan saja bila alien pembunuh yang dimaksud adalah sosok alien yang menjadi antagonis utama di semua film Alien selama ini. Untuk Anda yang mungkin seumuran saya dan mengikuti semua serial Alien, pasti akan bergumam; “Ah, begitu toh asal mula munculnya makluk menjijikkan ini.” Namun bagi sebagian penonton lain yang belum pernah menonton film-film Alien lama, Prometheus punya kesan seperti film reboot Star Trek 2 tahun lalu. Sebuah prekuel dari sebuah cerita panjang yang tidak jelas arah dan asiknya, kecuali bila sudah mengikuti keseluruhan serinya.

 

Buka Asa Baru Untuk Seri Alien Lagi...

Setelah menyaksikan Prometheus, ada beberapa penilaian singkat (menurut opini saya) yang mungkin menarik bagi Anda. Pertama, film ini tetap tidak sebagus ketiga trilogi pertama Alien. Kedua, film ini juga tidak seseram atau menegangkan seperti film-film Alien aslinya. Ketiga, alur cerita dalam Prometheus juga bisa dibilang standar saja. Dan untuk ukuran masa kini, dimana mata kita sudah pernah disuguhi cantiknya Avatar dan Transformers, jelas Prometheus tidak istimewa lagi untuk urusan special effect. Tapi… Satu hal yang pasti, film ini jelas lebih berkualitas dibandingkan kedua seri Alien vs Predator. Dan ini jelas sebuah asa baru bagi Ridley Scott untuk menciptakan seri Alien lagi yang tidak jeblok dan serba memaksakan cerita. Meski kini, harus terperangkap timeframe sebagai sebuah prekuel. Buat Anda yang kebetulan juga mengikuti semua film Alien lama, jangan kuatir, jawaban pertanyaan Anda (dan juga saya) akan muncul di akhir film. Ya, si monyong itu benar-benar nongol di film ini. Meski hanya sekilas dan hadir demi menjelaskan, mengapa ia bisa hadir dan membutuhkan induk semang untuk lahir sebagai alien dewasa. Well, welcome to the world, aliens…


Tentang Alien...Si Bibir Monyong Dengan Liur Asam Yang Tersohor Itu...

Franchise film Alien tergolong salah satu yang paling tua dan melegenda di dunia perfilman. Hanya saja, karena ia memilih genre dengan audiens yang sedikit sempit, yaitu science fiction thriller, membuatnya tidak memiliki fanbase sebesar film (sebut saja) Superman, Star Wars, atau Star Trek. Awal franshice film ini sebenarnya mengisahkan pergulatan sosok Ellen Ripley sebagai wanita yang tangguh melawan sosok alien yang terus mengancam kelangsungan hidup manusia di bumi. Film ini pula yang mengorbitkan nama Sigourney Weaver. Bayangkan saja, film ini pertama dibuat tahun 1979. Saya bahkan baru berusia 1 tahun ketika sosok alien kesohor ini pertama kali diperkenalkan di layar lebar. Dan untuk tahun itu, efek grafis yang digunakan sudah tergolong luar biasa! Uniknya, kesuksesan film Alien (dan semua sekuelnya) justru membuat sosok si alien lebih populer dibandingkan karakter Ellen Ripley sendiri…

Film Alien pertama dirilis pada tahun 1979. Tepatnya 25 Mei 1979. Saya bertaruh, banyak pembaca KusukaSuka yang mungkin belum lahir pada saat itu bukan? Film ini bukan main suksesnya karena Ridley Scott berhasil meramu sebuah film dengan teknik olah grafis yang luar biasa (untuk standar tahun 70-an). Tak ayal, memperoleh penghargaan Best Visual Effect di Academy Award tahun itu. Secara alur kisah, tak ada yang spesial sebenarnya. Namun Ridley sudah menyiapkan skenario bila nantinya Alien ini akan menjadi film trilogi, tanpa menampilkan secara eksplisit adegan penyambungnya.

Tujuh tahun kemudian, barulah sekuel pertamanya muncul. Dengan judul yang nyaris mirip, Aliens. Film kedua ini pertama nongol di bioskop Amerika pada tanggal 18 Juli 1986. Untuk sekuel ini, Ridley menyerahkan posisi sutradara pada James Cameron. Dan masih mengandalkan Ellen Ripley sebagai tokoh utama. Sekuel ini lagi-lagi memenangkan kategori Best Visual Effect. Namun kini punya tambahan prestasi karena Sigourney Weaver meraih award Best Actress dan James Cameron sebagai Best Director. Bisa disimpulkan, ini adalah sekuel yang sukses.

Tapi menurut saya, alur cerita paling klimaks dan bagus justru ada di sekuel kedua, yaitu Alien 3. Mengapa? Karena di film ini, baru dalam pertengahan/akhir cerita, penonton mendapat kejutan keren, bila Ripley ternyata “mengandung” alien di dalam tubuhnya. Alien menyusup ke dalam tubuh Ripley tanpa sadar, ketika ia menyelamatkan diri lewat Escape Pod dari film sebelumnya. Dan uniknya, malah alien yang ada di dalam tubuh Ripley adalah kategori Queen. Film ketiga ini juga disutradarai oleh orang baru lagi, yaitu David Fincher. Dan dirilis pada tanggal 22 Mei 1992.

Baru kemudian tahun 1997, tepatnya 26 November, sekuel terbaru Alien dengan judul Alien Resurrection dibuat. Film ini langsung punya kesan memiliki plot yang menjenuhkan. Film ini disutradarai oleh orang baru (lagi), yaitu Jean-Pierre Jeunet, dibantu oleh Joss Whedon (yang membuat The Avengers) sebagai asisten. Dari sutradaranya sudah memberikan kesan pesimis akan penurunan kualitas film. Untungnya, untuk sedikit mengangkat kesuksesan film ini dari kejenuhan, mereka memasang tokoh utama baru, Annalee Call. Sosok ini diperankan oleh Winona Ryder yang punya karakter manis, halus, dan mungil. Ia menjadi partner utama Ripley, yang diperankan Sigourney Weaver, dengan karakter berlawanan. Ripley di sini dikisahkan sebagai versi cloning, bukanlah Ripley yang sama dengan film-film sebelumnya. Sayangnya, sesuai tebakan, film ini kurang sukses dan menuai lumayan banyak kritik. Karenanya, para punggawa film Alien pun memutar otak mereka dan berpikir bagaimana mencari duit lagi menggunakan nama Alien. Alhasil, mereka muncul dengan ide baru, yang menurut saya…lebih konyol lagi. Hadirlah seri baru, pertarungan tinju antara Alien dan Predator.

Tentang Alien, Predator, Dan Perdebatan Anjing-Kucing Mereka...

Inilah franchise baru film yang mengangkat nama besar seri Alien dan Predator. Bisa diperkirakan sejak awal, konsep yang memaksakan dua film bertemu menjadi satu, mencari-cari alasan agar nyambung sekenanya, dan membuat kedua figur tersebut saling bertengkar adalah sebuah ide konyol. Akibatnya, kedua film Alien vs Predator tergolong tidak sukses dan menuai banyak kritik. Kebanyakan penonton yang melihat hanya karena dihantui rasa penasaran, dan tidak punya acara menghabiskan waktu selain membeli tiket bioskop yang cukup murah.

Alien vs Predator pertama dirilis pada tanggal 12 Agustus 2004, dan disutradarai oleh Paul W. S. Anderson. Layaknya film murahan standar Hollywood lainnya, film ini juga dibintangi oleh aktor-aktris yang kurang dikenal. Alur ceritanya pun terkesan sangat dangkal. Sayangnya, tidak belajar dari pengalaman, 20th Century Fox selaku pemegang lisensi nama Alien dan Predator, kembali membuat sekuelnya. Kali ini disebut dengan judul Aliens vs Predator: Requiem, yang dirilis pada tanggal 25 Desember 2007. Film yang disutradarai oleh Colin dan Greg Strause (bersaudara) ini kembali menuai banyak kritik pedas. Bahkan cenderung lebih mengecewakan dibanding film pertama.

Sangat Populer Dulu, Untuk Ukuran Film Thriller

Di masa-masa jayanya, nama Alien (terutama sosok si alien sendiri) memang sangat populer. Tak ayal, banyak spin-off dibuat berdasarkan karakter monster monyong ini. Dan tidak heran, sering kali berkesan memaksa dan konyol (atau lebih tidak masuk akal). Misalnya, sebut saja beberapa judul komik yang dirilis oleh DC Comics dengan judul macam Batman vs Aliens, Green Lantern vs Aliens, Judge Dredd vs Aliens, bahkan sampai Superman vs Aliens! Yang lebih gila lagi, meskipun sudah ada komik Aliens vs Predator, kemudian muncul komik lain yang berjudul Aliens vs Predator vs The Terminator. Mama Mia!!!

Alien juga banyak bermunculan di video game, dan juga komputer. Karena ia pertama hadir di tahun 1979, maka tak heran ia bahkan pernah menjadi salah satu titel game di konsol game super klasik seperti Atari 2600. Ini adalah game Alien pertama yang mengambil basis game Pacman, namun dengan tema Alien. Game dengan tema Alien terus lestari hingga kini. Yang terakhir adalah game Aliens: Infestation untuk Nintendo DS di tahun 2011. Dan pada musim semi 2012 ini, akan muncul game berjudul Aliens: Colonial Marines. Dibuat untuk tiga sistem tercanggih saat ini, PC, Xbox360, dan PlayStation3.

Arti Kata Prometheus...

Jon Spaihts dan Damon Lindelof sebagai penulis utama kisah film ini, tentunya bukan tanpa dasar memilih nama Prometheus. Dari bunyinya sudah bisa ditebak, ia diambil dari mitologi Yunani kuno. Prometheus adalah sosok salah satu dewa dalam mitologi tersebut. Tepatnya sebagai salah satu titan, anak dari Iapetus dan Clymene, saudara dari Atlas, Epimetheus, dan Menoetius.  Prometheus melambangkan kecerdikan dan kepandaian. Dikisahkan bila ia mencuri unsur zat api dari dewa Zeus dan memberikannya pada manusia. Zeus kemudian menghukumnya dengan cara mengunci Prometheus pada sebuah karang, dan membuat seekor elang raksasa memakan liver Prometheus setiap hari, hanya untuk merasakan siksaannya (karena akan selalu tumbuh dan muncul kembali tiap harinya). Mungkin karena keberpihakan Prometheus pada ras manusia dan sosoknya yang melambangkan intelegensia, membuat Jon dan Damon menamakan pesawat luar angkasa dalam film ini sesuai namanya. Sejalan misi utamanya, pergi membuka jalan dan harapan baru bagi manusia…

Screenshot

Movie Review

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super
3.5

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super

Yap! setelah Rock of Ages, kini Tom Cruise kembali ke layar lebar. Jack Reacher, film bergenre aksi ini sepertinya akan mengobati kerinduan penggemar atas absennya Mission Impossible tahun ini. Well,  Full Article »

Dec 29, 2012 Ξ Leave a comment