Friday 02nd December 2016,

Movie Reviews

Ξ Leave a comment

Sekuel Animatif Yang Ungguli Prekuel Live Action-nya

posted by Erwind Prasetyo
Sekuel Animatif Yang Ungguli Prekuel Live Action-nya

 Review Rating

Story
Effect
Music

Genre: Science Fiction, Thriller

Director: Shinji Aramaki

Actor: David Matranga, David Wald, Emily Neves, Justin Doran, Luci Christian

Release Date: 28 Agustus 2012

 What We Like : 

Surprise! Ternyata lebih keren dibanding Starship Troopers kedua dan ketiga!

 What We Dislike :

Kurang niat, semua karakter pria berambut cepak mirip-mirip, demi hindarkan sulitnya bikin CGI gerai rambut.

Sajikan Kisah Simpel Dan Lebih Apik Dibanding Dua Sekuel Sebelumnya
Film ini mestinya dirilis tanggal 21 Juli lalu, di Jepang. Namun baru muncul di Amerika dan pasar internasional 28 Agustus kemarin. Memang cukup banyak hal unik dalam sekuel ketiga seri Starship Troopers ini. Pertama, film ini bukan merupakan film live action, atau diperankan aktor beneran. Melainkan sebuah animasi 3D CGI. Kedua, film ini juga diawaki oleh tim Jepang, diproduksi, dan diluncurkan pertama kali di Jepang pula. Ketiga, film ini juga menampilkan kembali tiga tokoh utama dalam kisah orisinil Starship Troopers. Dan terakhir, film ini dirilis di pasar Amerika dan internasional bukan dalam versi layar lebar (bioskop), melainkan home video (baik format Blu-ray maupun DVD).

Starship Troopers: Invasion menampilkan alur cerita yang simpel. Sebuah stasiun outpost milik Federation, bernama Fort Casey, menderita kehancuran total akibat serangan monster-monster alien yang disebut Bugs (karena memang mereka mirip serangga, hanya saja berukuran sebuah mobil city car). Sebuah kapal ruang angkasa dengan nama John A. Warden, yang kebetulan merapat di sana, juga kena imbasnya. Ikut menjadi target bulan-bulanan serangga alien tersebut. Hingga Federation pun menugaskan pesawat Alesia, untuk menurunkan tim khusus bertujuan mengevakuasi kru yang masih selamat dari Fort Casey dan John A. Warden. Sayangnya, sebelum mereka tiba, pesawat John A. Warden dibawa paksa untuk sebuah misi rahasia ke Nebula. Hingga ketika tim Alesia yang dipimpin oleh Hero (Major Henry Varro), kemudian terpaksa meninggalkan Fort Casey dan memburu John A. Warden. Benang merah pengait sekuel ini dengan Starship Troopers pertama adalah ketiga karakter utama yang memang menjadi protagonis di novel acuan, karya Robert A. Heinlein. Mereka adalah Johnny Rico, Carmen Ibanez, dan Carl Jenkins. Rico yang dulu masuk ke divisi infantri, kini sudah menjadi Base General. Carmen, yang memilih menjadi pilot, berposisi sebagai Ship Captain, dan kebetulan ia membawahi pesawat John A. Warden. Carl, yang lebih cocok di divisi riset dan pengembangan, sudah lebih gemilang sebagai Minister of Paranormal Warfare. Jadi…kini reuni kecil tiga sahabat ini dimulai dengan konflik. Carmen jengkel karena Carl mengambil paksa pesawatnya untuk kepentingan riset rahasia, sementara Rico belum berani bertindak tegas untuk serta merta memerintahkan bawahan mencegah Carl.

Teknologi CGI Standar, Niat Dan Budget Seadanya, Tapi Berhasil Maksimal
Bagaimana dengan teknologi grafis CGI yang digunakan? Saya sebut standar. Saya sudah menyaksikan film dengan kualitas sejenis (bahkan sejentik lebih baik) di tahun 2001, 11 tahun yang lalu, lewat Final Fantasy: The Spirit Within. Film yang kebetulan juga digodok di Jepang (diangkat dari nama besar sebuah seri RPG, Final Fantasy, milik Square Enix). Lalu tahun 2005, hadir pula film CGI dari Jepang yang jauh sekali di atas kedua film ini, yaitu Final Fantasy VII: Advent Children. Hollywood kemudian menggebrak sejarah dunia dengan memperkenalkan Avatar, 3 tahun lalu. Jadi kini, ketika saya menyaksikan sebuah film full CGI seperti Starship Troopers: Invasion, saya seperti disuguhi mainan yang mundur tiga jaman. Di jaman PlayStation3, disodori Super Nintendo… Tapi santai, meski tidak wah, bukan berarti buruk.

Keputusan Sony Pictures untuk berani mengalihkan sekuel ketiga ini sebagai sebuah film animasi CGI dan di bawah arahan sutradara Jepang, memang patut diacungi jempol. Bukan karena kesuksesannya, melainkan karena nekat. Salah satu yang dikejar oleh Sony Pictures adalah penghematan budget produksi. Bila mereka membuat sekuel baru dalam format live action seperti film-film sebelumnya, mereka akan terbelit oleh biaya produksi (baik shooting, material, dan lain-lain), menyewa aktor dan aktris (meski belakangan banyak yang berkelas pinggiran), dan tetap harus keluar biaya untuk olah grafis 3D CGI (untuk adegan luar angkasa dan para serangga). Jadi mereka pikir, kenapa tidak sekalian bikin film yang full CGI saja? Untungnya, meski digarap setengah hati, sekuel ketiga ini terbukti lebih menyenangkan ditonton. Alur ceritanya sederhana, dan kembalinya tiga sekawan utama Starship Troopers berhasil mengangkat film ini jadi lebih enak diikuti ketimbang dua prekuel sebelumnya. So, saya sebut saja, dengan usaha dan budget yang “tidak maksimal” ini, hasil akhirnya cukup baik dan “cukup maksimal” untuk kelasnya.

Layakkah Ditonton?
Pertanyaan yang singkat dan lugas, namun punya dua kemungkinan jawaban yang beda jauh. Tergantung, Anda mau nonton melalui apa dulu? Kalau berencana nonton lewat DVD (yang notabene pasti bajakan) seharga 7 Ribu Rupiah, yah, kenapa tidak? Hanya seharga semangkuk soto ayam. Tapi bila Anda punya style, gaya, dan standar untuk hanya mau buka mata dengan tampilan Full HD 1080p di layar LCD, serta terpaksa membeli Blu-ray seharga 400 Ribuan Rupiah, saya sarankan simpan saja duit Anda. Film ini tidak akan muncul di bioskop, secara ia hanya dirilis dalam format DVD dan Blu-ray untuk pasar di luar Jepang.

Starship Troopers bukanlah film kelas atas. Sejak awal, tergolong agak murahan. Apalagi sejak ditinggal dua aktor dan aktris utamanya, Denise Richards dan Neil Patrick Harris, sekuel pertama dan keduanya makin jadi film kelas pinggiran di Amerika. Tapi bagi penikmat film Sci-Fi, serial ini cukup menghibur. Gabungan efek visual, background futuristik, aksi brutal cobak-cabik badan oleh serangga raksasa, dan, tentu saja, bumbu adegan erotis yang tak pernah absen di semua serinya…lumayan menghibur!

Patriotisme 3 Starship Troopers & 3 Sekawan Rico-Carmen-Carl

Patriotisme 3 Starship Troopers & 3 Sekawan Rico-Carmen-Carl
Film pertama Starship Troopers ini tergolong apik. Film yang dirilis 7 November 1997 ini disutradarai oleh Paul Verhoeven dan memiliki alur cerita yang rapi, tidak terlalu kompleks. Ada drama, punya efek visual yang manis, dan digawangi oleh beberapa aktor berkualitas macam Casper Van Dien, Denise Richards, dan Neil Patrick Harris. Kisahnya ditata apik tentang tiga sahabat sejak sekolah yang memutuskan untuk bergabung dengan Federation, demi ikut andil untuk melindungi bumi dan ras manusia berperang melawan alien serangga (Bugs). Mereka terpaksa menentukan mengambil jalur karir dan resiko yang berbeda-beda, karena menempuh pilihan divisi yang berbeda pula. Johnny Rico (diperankan Casper Van Dien) memilih bertempur di garis depan sebagai seorang tentara infantri. Carmen Ibanez (diperankan Denise Richards) lebih berhasrat menempuh karir sebagai pilot pesawat luar angkasa. Sedangkan Carl Jenkins (diperankan Neil Patrick Harris) lebih suka bermain dengan otak dan mengasah kemampuan telekinetiknya dalam divisi riset. Cerita berkembang mengisahkan kiprah mereka masing-masing berusaha bertahan hidup dalam suasana perang, yang kemudian diakhiri dengan bersilangnya jalan dan karir di antara mereka.

Melihat kesuksesan film pertama yang meraup Box Office senilai 121 Juta Dolar menggelitik TriStar Pictures untuk menelurkan sekuelnya. Maka lahirlah Starship Troopers 2: Hero of the Federation, pada 1 Juni 2004. Sebuah film yang menunjukkan langkah bodoh dan nafsu TriStar untuk mengejar keuntungan semata karena kesuksesan nama prekuelnya. Film kedua ini dibesut oleh sutradara yang baru (Phil Tippett), alur cerita yang murahan, dan dibintangi oleh aktor-aktris pinggiran Hollywood. Alhasil, Hero of the Federation sukses menjadi film jeblok. Absennya ketiga karakter utama, disebut-sebut sebagai salah satu pemicu utama.

Melihat prestasi pasar sekuel pertama yang jatuh, TriStar tidak keberatan ketika Sony Pictures menawar murah membeli hak franchise film ini dari mereka. Dan Sony Pictures pun mulai berencana merilis sekuel versi mereka. Mereka menunjuk sutradara Ed Neumeier untuk memimpin proyek uji coba mereka. Sebagai sarana pemicu agar film ini bisa terangkat kembali dari keterpurukan Starship Troopers 2, Sony Pictures memanggil Casper Van Dien untuk kembali memerankan Johnny Rico. Hasilnya bisa ditebak; so-so saja. Tidak sejeblok seri kedua karena sudah belajar dari kesalahan sebelumnya. Namun juga tidak sukses amat, karena publik sudah terlanjur punya cap bila sekuel-sekuel Starship Troopers takkan sebagus film pertamanya.


Bumbu Erotik Yang Tak Pernah Absen

Bumbu Erotik Yang Tak Pernah Absen
Kalau kita nonton film horor dan thriller, seringkali ada bumbu adegan yang berbau seksi di sana. Begitu pula dengan Starship Troopers. Adegan yang menjurus dewasa, menampilkan aksi polos, tak pernah absen sejak film pertamanya. Bahkan karena seri kedua dan ketiga dibilang kurang punya “gigi,” maka tingkat adegan dewasanya pun makin menjadi-jadi. Yang saya kaget, ternyata adegan dewasa ini pun juga tetap lestari di sekuel terbaru yang notabene merupakan film animasi 3D. Tidak banyak, dan memang takkan menimbulkan efek sepanas prekuelnya yang memang diperankan oleh aktris sungguhan. Namun tetap saja, “bonus” ini seakan menjadi ciri khas seri film Starship Troopers. Berikut beberapa adegan yang tentu saja lolos sensor di versi Blu-ray, namun takkan saya loloskan sensornya di KusukaSuka…


Screenshot

Movie Review

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super
3.5

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super

Yap! setelah Rock of Ages, kini Tom Cruise kembali ke layar lebar. Jack Reacher, film bergenre aksi ini sepertinya akan mengobati kerinduan penggemar atas absennya Mission Impossible tahun ini. Well,  Full Article »

Dec 29, 2012 Ξ Leave a comment