Friday 02nd December 2016,

Movie Reviews

Ξ Leave a comment

The Expendables 2, Museum Para Raja Bintang Laga

posted by Octavia
The Expendables 2, Museum Para Raja Bintang Laga

 Review Rating

Story
Effect
Music

Genre: Action
Director: Simon West
Actor: Arnold Schwarzenegger, Bruce Willis, Chuck Norris,Dolph Lundgren, Jason Statham, Jean Claude Van Damme, Jet Li, Liam Hemsworth, Nan Yu, Randy Couture,Scott Adkins, sylvester Stallone, Terry Crews
Release Date: 17 Agustus 2012

 What We Like : 

Terdapat tambahan karakter baru yang dapat membawa image baru dalam film ini, visual effectnya sungguh memanjakan mata serta adanya humor-humor ‘cerdas’ yang disisipkan sutradara dalam timing yang tepat

 What We Dislike :

Seperti layaknya film aksi lain, film ini juga hanya bertumpu pada visual effect dan ketenaran para bintangnya sedangkan alur dari film ini cenderung tidak ada yang istimewa

Yak, the king has return! Raja-raja para bintang film laga kembali melakukan ‘reuni’ dalam film ini. Diawali dengan sebuah misi untuk membebaskan seorang jutawan cina, Barney Ross (Sylvester Stallone), Lee Christmas (Jason Statham), Yin Yang (Jet Li), Gunner Jensen (Dolph Lundgren), Halle Caesar (Terry Crews), Toll Road (Randy Couture) serta sang anggota baru, si *ehem* cakep Billy The Kid (Liam Hemsworth) kembali melakukan aksi nekat nan (sedikit) brutal demi memenuhi target mereka. Walaupun terdapat sedikit kejutan dan banyak perlawanan, mereka dapat memenuhi tuntutan tersebut dan kemudian mengirimkan kembali sang jutawan yang disekap di Nepal ke negara asalnya.

Kembalinya para raja-raja bintang laga ini tak ayal membuat semua orang excited dan kembali menonton aksi dari sederet nama diatas. Film The Expendables 2 ini dapat dikatakan lebih berat dalam segi aktor daripada yang pertama karena film ini menambahkan3 sekaligus raja film laga yaitu Arnold Schwarzenegger, Jean-Claude Van Damme dan Chuck Norris!. Selain itu, film ini sepertinya sudah dibikin ‘agak’ manusiawi dengan memasukkan unsur-unsur ‘halus’ kedalamnya (mengerti yang saya maksud bukan? Perasaan kehilangan, wanita, cinta, dan hal semacam itulah). Well, dapat membayangkan bukan bagaimana jadinya film ini???

1.Sinopsis

Setelah melakukan misi tersebut, semua anggota tim (minus Yang yang saat itu sedang mengantarkan sang jutawan China kembali ke tempat asalnya) kembali ke New York untuk merayakan keberhasilan mereka dalam memenuhi target sekaligus untuk meregangkan otot sejenak. Billy kemudian mengutarakan keinginannya untuk pensiun dari tim pada akhir bulan tersebut kepada sang leader, Ross. Karena alasan ingin hidup bahagia dengan sang pacar, Sophie, di Perancis, Ross akhirnya mengabulkan keinginan anggota yang paling muda tersebut.

Kemudian secara diam-diam, Mr.Church (Bruce Willis) menemui Ross dan memberikan (lebih tepatnya memaksa) Ross dan timnya untuk melakukan suatu misi. Karena kejadian dimasa lalu, Ross-pun tak dapat menolak misi tersebut, secara terpaksa pula dirinya menerima misi yang ditawarkan oleh Mr. Church.

Misi yang diemban oleh tim ini adalah mengambil cetak biru sebuah gudang penimbunan plutonium dari brankas dalam sebuah pesawat yang jatuh di Albania. Akan tetapi tim in tidaklah dipercaya untuk mencari dan mengambil cetak biru tersebut sendirian, Mr. Church mengirim salah satu ahli teknis yang (untungnya) adalah seorang perempuan. Well, dapat membayangkan sendiri bagaimana hebohnya anggota tim yang lain menemui adanya perempuan dalam misi in bukan?. Sayangnya, Maggie, sang ahli teknis tersebut tidak hanya berbekal otak, tetapi juga berbekal skill beladiri yang cukup untuk tidak merepotkan anggota yang lainnya. Selain karena alasan kepercayaan, Maggie diikutkan untuk memecahkan kode sandi brankas tersebut yang selalu berubah tiap detiknya. Sekali melakukan kesalahan maka brankas tersebut akan meledak dalam waktu kurang dari satu menit dan hilanglah cetak biru tersebut.

Bersama-sama, Ross dan timnya minus Yin Yang serta Maggie memulai perjalanan dan pencarian pesawat tersebut. Pada awalnya semua berjalan lancar, cetak birupun berhasil berada ditangan mereka walaupun didapat pada menit-menit terakhir peledakan brankas tersebut. Secara tak terduga, ternyata tim ini dimata-matai oleh sebuah kelompok penjahat dan pedagang senjata internasional yang dimotori oleh Jean Villain (Jean-Claude Van Damme). Billy, yang kebagian menjalankan tugas untuk berjaga disekitar area tersebut pun ditangkap dan dijadikan tawanan. Villain, yang ditemani oleh bodyguardnya, Hector (Scott Adkins) menginginkan cetak biru tersebut dan melakukan penawaran untuk menukar nyawa Billy dengan sebuah map yang menunjukkan letak gudang penimbunan Plutonium sebesar 5 ton itu. Terjadi perlawanan antara kedua kubu pada awalnya, akan tetapi karena terusik perasaan wanitanya dan karena kalah jumlah, Maggie kemudian menyetujui penawaran tersebut dan menyerahkan cetak biru itu kepada pihak Villain. Disisi lain, kubu Villain ternyata tidak menepati janjinya dan tetap membunuh Billy yang merupakan anggota termuda dalam tim tersebut. Ironis sekali memang, saat ada yang ingin mengubah jalan hidupnya, orang itu malah harus meninggalkan dunia terlebih dahulu sebelum mimpinya tersebut terwujud.

Hal ini tak ayal membuat Ross dan anggota tim yang lain murka. Mereka akhirnya memutuskan untuk tetap mengejar Villain sampai ke ujung dunia sekalipun guna mendapatkan cetak biru tersebut dan alasan lain yang lebih penting, yaitu pembalasan dendam.

Film ini, seperti yang telah saya sebutkan diatas, lebih ‘berat’ dalam segi komposisi para pemain daripada film sebelumnya. Selain tim Ross dan Mr. Church, dalam sekuel yang kedua ini sang sutradara, Simon West, menambahkan lagi 3 nama raja aksi Hollywood, yaitu Arnold Schwarzenegger, Jean-Claude Van Damme dan Chuck Norris. Dengan popularitas masa lalu bintang-bintang ini, tentunya tak ayal banyak para penonton dari berbagai usia, bahkan penonton berusia manula pun, tak akan melewatkan aksi para aktor bintang laga yang tak lagi muda ini.dan, dengan membludaknya para penonton, tak ayal pendapatan dari film ini juga ikut terdongkrak maju.

2. Film Aksi yaa Film Aksi

Dari pertama kali melihat para pemainnya, tentu saja mudah menebak apa genre dari film ini. Sejak awal, Sly (Sylvester Stallone) sepertinya memang membangun image film ini sebagai sebagai ajang reuni dari nama-nama yang besar berkat film laga di masa lalu. Saya sendiri lebih suka menyebutnya museum yang memamerkan para aktor masa lalu di masa kini. Ternyata, walaupun film laga tidak lagi menjadi satu-satunya film yang laris di masa ini, film ini tidak kehilangan banyak penggemarnya. Para aktornya boleh jadi tidak muda dan *sedikit* tidak enak dipandang lagi, stamina mereka pun boleh jadi tidak sesempurna dahulu, akan tetapi penonton sepertinya tidak memperhatikan hal itu. Mereka tetap berbondong-bondong memborong tiket film ini hingga ke dertan kursi paling depan sekalipun.

Selain aktornya, efek visual yang disediakan pun juga cukup menghibur mata. Yaa namanya juga film aksi, pastinya ada adegan bunuh-membunuh, bacok-membacok, kaplok-mengaplok dan adegan kekerasan yang lain. Ada sedikit perasaan wow ketika sly dan timnya mulai melakukan aksi pada menit pertama filmini dimulai, entah karena terbawa atmosfir atau memang karena efeknya bagus, saya tidak tahu secara pasti.

Salah satu adegan kekerasan (namanya juga film aksi, boleh dong suka sama adegan ‘aksinya’?) yang saya suka dalam film ini adalah ketika Billy dibunuh oleh Villain. Angle pengambilan yang pas ditambahi sedikit aksi akrobatik yang menawan dari Van Dammed an dibumbui dengan sedikit permainan perasaan membuat adegan ini menjadi salah satu adegan yang indah (jangan salahkan saya, salahkan sutradaranya) menurut saya.

Selain itu, aksi dramatis keluarnya sang Lone Wolf (Chuck Norris) lagi-lagi juga harus diacungi jempol. Sejak dulu, entah kenapa saya suka dengan bintang lagi yang satu ini. Menurut saya bintang yang satu ini memiliki karisma yang berbeda dibandingkan dengan bintang film laga lain. Entah karena sosoknya yang begitu lekat dengan sosok kebapakan atau karena dirinya mengingatkan saya terhadap sosok animasi Droopy, saya tidak begitu yakin dengan salah satu diantaranya (oke, mungkin boleh dibilang keduanya).

Dengan seorang diri, sang Wolf berhasil menembaki para kumpulan Sangs (para tentara bayaran milik Villain) tanpa terkecuali. Mengagumkan bukan? Ditambah lagi dengan kemunculannya dari balik kabut dengan pose yang seakan berkata, “hei kalian, apa kabar? Ini aku, keren bukan aksiku barusan?” dibumbui dengan karisma misteriusnya, membuat semuanya tampak sempurna, perfect! bravo!.

Apabila anda tipe orang yang sangat terkagum-kagum dengan film beralur kuat dan menakjubkan, maka siap-siaplah kecewa dengan film ini. Meskipun melibatkan actor-aktor hebat tetapi film ini lemah dalam hal alur cerita. Hampir tidak ada yang istimewa dari alur cerita film ini. Nama besar film ini (beserta aktornya) dipertaruhkan pada aksi akrobatik, adegan pukul-memukul (atau tembak-menembak), ukuran otot, popularitas masa lalu, efek visual, dan sedikit pendalaman karakter dari masing-masing bintangnya.

 

Trivia

1. Karakter yang dimainkan oleh Liam Hemsworth, Billy The Kid, awalnya siberikan kepada Taylor Lautner
2. Kambalinya Dolph Lundgren, yang diceritakan tewas dalam film sebelumnya, baru terpikir belakangan tepat pada saat proses produksi film ini dimulai
3. Sebuah jembatan kereta api diatas Sungai Osam, Bulgaria, yang dibangun untuk kepentingan film akan tetap dibiarkan dan dianggap sebagai salah satu bagian dari jaringan kereta api Bulgaria
4. Seorang stuntman meninggal dan beberapa berada dalam kondisi kritis saat syuting adegan di Bulgaria, dimana terdapat adegan yang melibatkan peledakan pada sebuah perahu karet
5. Arnold Schwarzenegger menyelesaikan bagiannya tepat seminggu sebelum produksi The Last Stand dimulai
6. Arnie menyelesaikan semua bagiannya hanya dalam 5 hari
7. Dalam film ini, Sly hanya berperan sebagai penulis naskah dan actor, tidak seperti film sebelumnya dimana dirinya menjadi actor, co-writer, co-produser dan sutradara sekaligus
8. Film ini merupakan film keempat Jean Claude Van Damme yang bekerjasama dengan Dolph Lundgren dan Scott Adkins


9. Liam Hemsworth sebenarnya juga turut berperan dalam film sebelumnya (The Expendables), tetapi karena adanya pengeditan naskah, karakternya dihapusnya. Dia kemudian berperan dalam film sekuelnya
10. Saat syuting di Bulgaria, Arnie sempat melakukan peran politikusnya dan bertemu dengan perdana mentri Bulgaria. Dirinya kemudian dianugerahi pedang milik Conan the Barbarian
11. Sylvester Stallone sempat meng-cancel tur promosi untuk film ini setelah mendapat kabar kematian anaknya, Sage
12. Gina Carano sebelumnya didaulat untuk memerankan karakter Maggie
13. Chuck Norris pernah digigit oleh ular kobra, dan seteah 5 hari menderita kesakitan yang luas biasa, kobra tersebut mati
14. Karakter yang dimainkan oleh Dolph Lundgren, Gunnar Jensen, yang memiliki gelar dalam bidang teknik kimia diinspirasi oleh dirinya sendiri di kehidupan nyata. Dalam film ini, Jensen diceritakan menolak menjadi scientis dan memilih sebagai ‘tukang pukul’ dalam rangka untuk memikat hati gadis impiannya. Hal ini pun tidak jauh dari kenyataan hidupnya dimana dirinya juga menolak menjadi scientis dan malah bekerja sebagai bodyguard bagi seorang gadis (yang kemudian menjadi kekasihnya) bernama Grace Jones
15. Adegan yang melibatkan peran petenis Novak Djokovic akhirnya dihapuskan. Dalam adegan ini, dirinya diceritakan tangah menyerang teroris menggunakan raketnya (well, selera humor orang-orang ini harus saya akui cukup bagus)

Foto-Foto dari The Expendables 2


Movie Review

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super
3.5

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super

Yap! setelah Rock of Ages, kini Tom Cruise kembali ke layar lebar. Jack Reacher, film bergenre aksi ini sepertinya akan mengobati kerinduan penggemar atas absennya Mission Impossible tahun ini. Well,  Full Article »

Dec 29, 2012 Ξ Leave a comment