Wednesday 07th December 2016,

Movie Reviews

Ξ Leave a comment

“The Perks of Being a Wallflower”, Kisah Perjalanan Si Cupu

posted by Aisyah Nawangsari
“The Perks of Being a Wallflower”, Kisah Perjalanan Si Cupu
Review Rating
Story
Effect
Music

Genre: Drama, Comedy
Director: Stephen Chbosky
Actor: Logan Lerman, Emma Watson, Ezra Miller
Release Date: 21 September 2012

What We Like :

Stephen mengarahkan film dengan baik, scoring dan soundtrack juga keren, cast yang masih muda dan populer.

What We Dislike :

Jika anda belum pernah membaca novelnya, bersiap-siaplah untuk tidak mengerti.

Kehadiran Logan Lerman yang mirip Zac Efron dan seorang Percy Jackson, Emma Watson yang sukses berperan sebagai Hermione, dan Ezra Miller yang mirip aktor Jepang dan member boyband Arashi, Matsumoto Jun membuat saya tergoda untuk menonton “The Perks of Being a Wallpaper”. Namun di tengah-tengah menonton, saya merasa bosan dan yang membuat saya terus menonton adalah tiga orang tadi dan soundtrack-soundtrack yang ‘sangat 90an’.

Sinopsis

Charlie (Logan Lerman) adalah seorang wallflower (di Indonesia biasa dipanggil ‘cupu’). Ia pemalu, tidak punya teman, namun cerdas. Suatu kali ia tidak sengaja mendapat teman dua orang senior saat menonton pertandingan american football. Dua orang itu adalah Patrick (Ezra Miller) dan Sam (Emma Watson). Kedua orang itu ternyata adalah saudara tiri. Charlie yang cupu meminta bantuan dua orang itu untuk bisa mencoba berpesta dan melakukan hal-hal ‘gaul’ lainnya, termasuk mencoba LSD (sejenis narkoba). Saat bersama mereka, Charlie merasa senang karena memiliki teman, ia pun jatuh cinta pada Sam. Namun saat mereka lulus dan harus pergi ke luar kota, Charlie kembali merasa aneh. Bayang-bayang kematian Bibi Helen, sahabatnya saat kecil menghantuinya….

Hampir diberi rating R

Karena beberapa pertimbangan, film ini akhirnya diberi rating PG-13. Walaupun tidak ada adegan telanjang, namun di film ini terdapat penyalahgunaan narkoba, konsumsi alkohol, kekerasan, dan beberapa hal terkait seks. Memang film ini bercerita mengenai si cupu yang ingin belajar mengenai hal-hal yang lebih dewasa.

Detail cerita tidak jelas

Bagi orang Amerika yang pernah membaca novel “The Perks of Being a Wallflower” mungkin ini adalah film yang bagus. Apalagi jika usianya sudah menginjak angka 30 tahun yang mengalami masa-masa remaja di tahun 90an, film ini bisa jadi film yang ‘gue banget’. Namun bagi saya yang baru lahir di saat itu dan tidak begitu mengerti dengan kehidupan SMA orang Amerika, plus belum membaca novelnya, saya hanya bisa garuk-garuk kepala karena tidak mengerti apa yang ingin di sampaikan oleh Stephen Chbosky di sini. Stephen tidak menjelaskan secara detail mengenai pergaulan remaja saat itu sehingga bagi generasi seperti saya, cerita film ini sangat blur.

Karena blur, cerita film ini menjadi tidak istimewa. Mengangkat kehidupan remaja tahun 91-92? So what? Hanya mereka yang memiliki kehidupan remaja di tahun itu yang benar-benar ingin menonton karena ingin bernostalgia. Kehidupan SMA saat itu berbeda dengan saat ini sehingga remaja kini tidak akan tertarik dan puas dengan cerita yang seperti itu. Saat ini semua serba digital danbullying bisa dilakukan melalui sosial media. Film yang mengangkat fenomena-fenomena itu akan lebih menarik daripada cerita mengenai remaja yang menggunakan LSD.

Untungnya, cast film ini bukan amatiran sehingga paling tidak masing-masing tokoh memiliki karakter yang kuat dan unik. Misalnya Ezra Miller yang mampu memerankan Patrick yang gay dan slengekan. Emma Watson juga mampu melepas karakter cerdas yang selama ini disandangnya ketika berperan sebagai Hermione, di sini ia menjadi siswi yang hopeless karena kesulitan untuk lolos ujian universitas. Logan Lerman juga menunjukkan bahwa walaupun ia pendatang baru, namun ia bukan amatiran. Selain tampil sebagai murid yang cupu, Logan juga mampu tampil sebagai Charlie yang depresi karena kematian Bibi Helen. Penampilan Joan Cusack di akhir film juga menambah nilai plus untuk film ini.

Old music

Berbeda dengan cerita, musik tidak habis dimakan masa. Di film ini kita bisa mendengar lagu-lagu di tahun 80-90an yang disimpan di kaset pita. Soundtrack di isi oleh Air Supply, The Samples, Dexis Midnight Runners, dan David Bowie.

Bagi anda yang ingin bernostalgia, film ini bisa jadi pilihan yang tepat karena sang sutradara sekaligus penulis novel Stephen Chbosky menggambarkan suasana saat itu dengan baik walaupun ada beberapa hal yang missed, seperti poster dengan versi tahun 2011, Consol Center yang baru dibangun tahun 2008, dan lagu “Low” milik Crakcer yang baru dirilis tahun 1993.

Movie Review

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super
3.5

Jack Reacher, Kembalinya Sang Penyelidik Super

Yap! setelah Rock of Ages, kini Tom Cruise kembali ke layar lebar. Jack Reacher, film bergenre aksi ini sepertinya akan mengobati kerinduan penggemar atas absennya Mission Impossible tahun ini. Well,  Full Article »

Dec 29, 2012 Ξ Leave a comment